Resensi Buku: Ketakjuban Sepak Bola

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Rabu, 30 November 2022 | 20:36 WIB
Buku Puisi Bertemu Belalang karya Gody Usnaat (Foto Pribadi Bandung Mawardi)
Buku Puisi Bertemu Belalang karya Gody Usnaat (Foto Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COMPuisi tak bertanggung jawab kepada PSSI. Puisi itu kata-kata. PSSI itu berurusan sepak bola. Di Indonesia, mereka jarang bergandengan atau kencan bareng. Di sejarah puisi (modern) Indonesia, sepak bola jarang dicantumkan. Di sejarah PSSI, puisi itu asing, tak menentukan capaian sepak bola Indonesia untuk lolos di Piala Dunia.

Sejak dulu, puisi dan PSSI tak ada jalinan. Mereka membuat sejarah sendiri-sendiri. Puisi mungkin telah berjalan jauh meski melelahkan. PSSI mungkin tak selalu memikirkan sepak bola meski impian tak puitis terlalu berat diwujudkan.

Di puisi berjudul “Penalti” dimuat dalam buku berjudul Bertemu Belalang (2022), Gody Usnaat sengaja tak mengisahkan sepak bola di Indonesia. Ia malah melihat di negara sana. Sepak bola memikat dijadikan puisi, tak perlu memunculkan nama-nama asal Indonesia. Ia tak bertanggung jawab untuk mengabarkan PSSI kepada pembaca. PSSI sudah sering menjadi berita. Orang-orang keranjingan mengomentari PSSI dalam urusan-urusan minta diperdebatkan seribu hari. Puisi tak ada di situ.

Baca Juga: Mengenang Almarhumah Prof. Dr. Edi Sedyawati dari Buku

Kita membaca: sambil peluk bola, pirlo jalan pelan ke arah titik putih/ seperti burung maleo, pergi ke sarang/ simpan bola macam bertelur/ lima langkah mundur/ ia tarik napas – tahan di dada lalu embus kencang. Adegan itu puitis. Kita diingatkan kembali dengan sosok Pirlo. Pembaca jangan mencari Ronaldo, Messi, Benzema, atau Mbappe. Puisi memilih tokoh “lawas” bagi orang-orang memuja sepak bola di negara-negara sana, bukan Indonesia.

Pembaca diajak mengimajinasikan peristiwa akbar biasa disebut Piala Dunia. Sekian hari, kita sudah membuka mata dan berani lelah melihat puluhan pertandingan disiarkan di televisi. Kita rajin berkencan dengan televisi, bukan puisi. Kini, puisi gubahan Gody agak membuka album sepak bola dunia. Ingat, sepak bola dunia, bukan sepak bola di Indonesia.

Pada suatu hari, Gody sebagai penonton. Ia bukan komentator di televisi atau pembuat tulisan di koran. Penonton dengan kepala kata-kata dan mata imajinasi, memilih menaruh peristiwa dalam puisi. Ia menggubah “Penalti” pada 2020, tak terlalu jauh untuk kita taruh pada masa sekarang. Puisi kita taruh di depan televisi, selingan bila menanggungkan menit-menit sela: rampung babak pertama menuju babak kedua.

Baca Juga: Arab Saudi: Sepak Bola dan Agama

Bait mungkin paling mengesankan ditaruh di akhir. Gody mungkin bakal membuat puisi lagi nanti di ujung Piala Dunia 2022. Ingatan dan kata membuat pembaca (makin) terpikat sepak bola, tak selalu berita atau gosip. Kita berhadapan dengan puisi berbahasa Indonesia: tersaji sederhana tanpa janji bakal diterjemahkan dalam bahasa Inggris atau Italia.

Kita membaca dengan tenang dan saksama: penonton italia bersorak macam kodok pohon/ pelatih perancis serasa kena rajam deng batu/ pirlo berlari bahagia sambil berteriak/ bak ayam betina usai bertelur/ di tribun penonton perancis: ranting-ranting patah/ ulah di lapangan dan gerak waktu dan gelagat bola/ bikin zidane seumpama batang damar/ terluka dan mengeluarkan getah. Orang-orang Indonesia mengerti khazanah flora-fauna Nusantara membaca puisi dengan ketakjuban. Gody mahir berumpama, mendekatkan pembaca dengan alam Nusantara meski menampilkan sepak bola taraf dunia.

Pembaca masih “dikutuk” sepak bola dengan menikmati puisi berjudul “Usai Adu Penalti”. Puisi masih mengenai peristiwa akbar bersejarah, tak selesai dengan foto atau berita saja. Gody (2020) menulis: usai adu penalti/ bola macam murid yang diabaikan guru/ gawang seperti kerangka dangau/ Olympia stadion ditinggalkan laksana/ gedung sekolah dasar di pedalaman papua/ para pemain lekas ke klub sebagai rumah/ masing-masing. Kita makin mengerti usaha mendalami sepak bola berbekal “seperti” dan “laksana”. Penggubah puisi menggunakan kata-kata untuk menjadikan peristiwa melampaui drama.

Baca Juga: Inilah Daftar 56 Perusahaan Penerima SNI Award 2022

Di puisi, sepak bola dan Papua dihadirkan bersama tapi terhubung dengan kegemparan di kejauhan. Papua menjadi sumber mengolah bahasa (Indonesia) dimaksudkan sanggup dekat dan menguak sepak bola. Gody mulai bersiasat dengan “bagai”. Pembaca sadar sedang dalam pelajaran bahasa dan sepak bola. Gody masih luwes mengisahkan: tiba di kampung/ trapattoni belum juga letih bekerja bagai api di tungku/ bakar pisang, betatas, keladi/ hingga matang// pagi ini di bangku pelatih ia duduk bagai induk kasuari/ menyaksikan tim azzuri kejar,/ tangkap dan kas jinak bola. Kita perlahan justru dekat dan akrab dengan sepak bola di sana, tak berpijak di negara sendiri.

Di hadapan kita, puisi masih tentang sepak bola bertokoh besar asal Argentina. Penggubah puisi mungkin tak mengenal nama-nama (tenar) dalam sepak bola di Indonesia. Puisi itu berjudul “Mengenang Maradona”. Puisi membikin pembaca terlena: di ubrub, warna langit sore seperti jersey argentina/ dengan garis-garis putih awan/ dunia sebagai stadion asteca/ tak lagi jadi tempat kakinya berpijak/ girang giring bola. Gody keterlaluan menjadikan sepak bola itu meresap dalam diri pemuja. Segala melulu sepak bola! Pada suatu masa, ia mungkin bakal menjadi pendongeng sepak bola menggantikan omongan-omongan basi para pengamat sepak bola di Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X