TINEMU.COM – Sebagai musisi yang telah puluhan tahun berkarya, Ryan Kyoto sudah merasakan pasang surut dunia musik dari era analog hingga platform digital. Di tengah derasnya arus teknologi, Ryan tetap teguh dengan prinsip: musik harus lahir dari hati, bukan dari tren semata.
Pencipta sejumlah lagu hits diantaranya Sendiri Lagi (Chrisye, Noah), Cinta Jangan Kau Pergi (Sheila Madjid), Pasrah (Ermy Kullit) menyadari perkembangan teknologi di musik kini begitu pesat. Perangkat lunak, aplikasi, hingga kecerdasan buatan (AI) membuat proses produksi musik jadi lebih cepat dan mudah. Namun baginya, secanggih apa pun teknologi tidak bisa menggantikan jati diri seorang pencipta.
“Kalau ada AI itu hanya sebagai alat bantu saja. Tapi karya saya tetap utuh jadi karya sendiri. Saya tetap jadi diri saya,” ujarnya.
Baca Juga: Lagu ‘Tabola Bale’ Bikin Istana Merdeka Bergoyang, Ini Lirik dan Maknanya
Menurut Ryan, Indonesia kini sejajar dengan dunia internasional dalam hal kualitas produksi. Apa yang dibuat di Amerika bisa dalam hitungan detik hadir di Indonesia. Namun ia menekankan, musik tak pernah bisa dinilai dengan ukuran lebih baik atau buruk—karena semua kembali pada selera generasi pendengar.
“Anak-anak sekarang punya selera berbeda dengan kita yang lebih dulu. Jadi jangan dibandingkan lebih baik atau tidak, musik itu soal rasa,” katanya.
Berbeda di masa lalu ketika label rekaman memegang kendali penuh, kini Ryan memilih jalannya sendiri. Ia mendirikan studio pribadi tempat ia mencipta, mengaransemen, hingga melakukan mixing. Ryan menegaskan dirinya tidak akan mengejar tren hanya demi pasar. Jika suatu saat ia menciptakan lagu bernuansa Melayu atau dangdut, itu lahir dari rasa suka, bukan karena ikut-ikutan.
Baca Juga: 80 Kapal Perikanan Ikuti Upacara HUT RI di Pelabuhan Muara Baru
“Kalau saya bikin lagu Melayu, itu bukan pengaruh orang lain. Itu karena saya suka. Jadi karya itu lahir apa adanya, bukan dipaksakan,” ujarnya.
Menanggapi salah satu isu yang tengah memanas di industri musik tentang royalti, menurut Ryan, banyak musisi maupun masyarakat yang belum memahami secara utuh bagaimana sistem royalti bekerja.
“Jangan sampai musisi ribut dengan penyanyi, atau sebaliknya. Royalti itu sudah ada undang-undangnya. Tinggal transparansi dan pemerintah yang harus tegas. User atau pemakai seperti hotel, restoran, tempat hiburan juga harus disiplin membayar,” tegasnya.
Ryan menyayangkan masih minimnya sosialisasi tentang royalti. Informasi lebih banyak berhenti di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, sementara banyak musisi di daerah justru tidak tersentuh.
Baca Juga: AMLI dan JICAF Hadirkan 80 Karya untuk 80 Tahun Indonesia Merdeka
Artikel Terkait
JPU Tolak Pledoi Fariz RM, Kuasa Hukum Nilai Ada Beda Penafsiran
Yovie Widianto : Saya Dukung Transparansi dan Audit LMKN!
Bayou Comeback, Rilis Lagu Baru, dan Gelar Intimate Concert
Kuasa Hukum Fariz RM : 'Dia Bukan Pengedar!'