TINEMU.COM - Tersebutlah seorang penebang kayu yang memiliki sebuah kapak. Dengan kapak itu ia bekerja menebang pohon-pohon dan membelah-belah batang pohon itu untuk dijadikan kayu bakar.
Dari kayu bakar yang dibuatnya, ia beroleh uang untuk menghidupi keluarga kecilnya. Dalam pandangannya, ia tidak memiliki banyak masalah untuk dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.
Suatu ketika, dalam tidurnya, ia bermimpi. Dalam mimpinya itu ia melihat seorang pengemis yang meninggal dunia.
Pengemis yang meninggal dunia itu dalam alam maut yang diperlihatkan melalui mimpi si penebang kayu dipanggil namanya oleh malaikat.
Baca Juga: 27 Januari 1970: Sekularisasi dan Sakral
"Hei Fulan, marilah datang pada Tuhan, untuk mempertanggungjawabkan kekayaannmu!"
Maka mendekatlah pengemis itu dan Tuhan pun bertanya tentang kekayaan yang dimiliki oleh pengemis tersebut dan untuk apa kekayaan itu dipergunakan selama hidup pengemis tersebut.
"Ya, Tuhan." Jawab pengemis itu. "Hamba-Mu ini tidak memiliki kekayaan apa-apa, selain kaleng bekas yang kupergunakan untuk mengemis."
"Dari mana kau dapatkan kaleng itu?" Tuhan bertanya lagi.
"Kaleng itu hamba dapat dari pasar."
"Apakah ketika kau mendapatkannya, kaleng dibuang orang atau kau mengambilnya dari seseorang?"
Baca Juga: 26 Januari 1971: Pengarang, Novel, Penerbit
Pengemis itu terdiam. Mengingat-ingat peristiwa masa lalunya.
"Seingat hamba ya Tuhan, kaleng itu hamba ambil dari tanah. Mungkin sudah dibuang orang."
"Kau tidak tahu siapa pemilik sebelumnya?"
Artikel Terkait
The Hunger Games: Ketertarikan dan Keterikatan Politik-Estetika (Bagian 7: Musim Ke-74)
The Hunger Games: Ketertarikan dan Keterikatan Politik-Estetika (Bagian 8: Menabur Benih Perlawanan)
The Hunger Games: Ketertarikan dan Keterikatan Politik-Estetika (Bagian 9: Kembali Ke Arena)