Pembangunan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Harus Melibatkan Wong Tengger Ranu Pani

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Kamis, 5 Oktober 2023 | 09:41 WIB
Suku Tengger atau Wong Tengger di Desa Ranu Pani di  kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) (Foto: Tim PKM)
Suku Tengger atau Wong Tengger di Desa Ranu Pani di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) (Foto: Tim PKM)

TINEMU.COM - Pembangunan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi agenda prioritas nasional yang tergabung dalam 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) prioritas.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai KSPN prioritas didesain sebagai kawasan ecotourism untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan perspektif dan kepentingan indigenous people atau masyarakat adat.

“Sayangnya, pengembangan TNBTS sebagai KSPN justru mengabaikan perspektif dan kepentingan indigenous people, yakni suku Tengger atau Wong Tengger,” kata Danu Saifulloh Rahmadhani, salah satu tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM RSH) UGM, 4 Oktober 2023.

Baca Juga: Sutradara Money Heist Hadirkan Kembali Pahlawan Legendaris Zorro

Mahasiswa Fakultas Filsafat ini menuturkan bentuk nyata pengabaian yang dialami oleh Wong Tengger di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur terlihat dari kurangnya keterlibatan Wong Tengger sebagai subjek pembangunan dalam perencanaan dan manajemen kawasan TNBTS.

Kurangnya keterlibatan ini memunculkan benturan kepentingan antara Wong Tengger dengan pihak otoritas TNBTS yang secara formil menegaskan batas-batas pemanfaatan sumber daya. Justru Wong Tengger sebagai pihak terdampak tidak diakomodasi atau diberikan alternatif lain.

Kurangnya keterlibatan aktif Wong Tengger dalam pengembangan konservasi dan pariwisata TNBTS menjadi ironi karena tidak sesuai cita-cita pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi Gigi Kecil untuk Edukasi Kesehatan Anak

Konservasi dan pariwisata dalam konteks pembangunan berkelanjutan seharusnya mempertimbangkan perspektif indigenous people dan tidak serta-merta dalam perspektif pihak lain karena dapat menimbulkan sebuah konflik kepentingan.

“Masyarakat Tengger di Desa Ranu Pani yang bersinggungan langsung dengan proyek KSPN di wilayah TNBTS ternyata merasa kurang dilibatkan aktif dalam proses pengambilan keputusan dalam pengembangan TNBTS tersebut,” paparnya.

Kondisi tersebut mendorong Danu bersama dengan timnya yaitu Wahida Okta Khoirunnisa (Filsafat), Iswan Bahri (Pariwisata), Berlin Situmorang (Sosiologi), dan Maria Evivani Yonanda (Kehutanan) berusaha meneliti secara mendalam terhadap Wong Tengger atau masyarakat asli suku Tengger yang mendapatkan pengaruh dari adanya proyek KSPN tersebut.

Baca Juga: Dandim Pimpin Upacara Masuk Satuan Anggota Baru Kodim 1629/SBD

Mereka melakukan riset selama 4 bulan dengan judul, “Wong Tengger Worldview Masyarakat Ranu Pani sebagai Paradigma Pengembangan Indigenous Ecotourism di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”.

Riset dilakukan menggunakan pendekatan fenomenologi dengan teori worldview. Fenomenologi digunakan untuk mengungkap makna atau esensi dari sebuah fenomena di masyarakat dan kemudian diidentifikasi menggunakan teori worldview untuk memperoleh pengetahuan dasar yang dihayati oleh masyarakat Desa Ranu Pani.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Humas UGM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Aldi Taher dan Konser Dadakan Kembang Tahu

Selasa, 7 April 2026 | 00:02 WIB

Air Keras atau Asam Sulfat

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Berpuasa Ramadan Tanpa Buka Puasa Bersama

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:00 WIB

Tanda Bahaya Itu Sudah Sejak Lama Berdentang...

Senin, 9 Februari 2026 | 05:45 WIB

Mengapa Kita Tidak Pernah Berinvestasi di Bidang Seni?

Selasa, 27 Januari 2026 | 06:40 WIB

Kisah Pramugari Gadungan

Minggu, 11 Januari 2026 | 20:43 WIB
X