Oleh karenanya, tim berusaha mendeskripsikan dinamika sosial-ekonomi Wong Tengger di Desa Ranu Pani dan kemudian menganalisis sistem worldview yang dihayati oleh mereka. Hasilnya adalah sebuah strategi pengembangan indigenous ecotourism di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tutup Maria Evivani Yonanda.
Baca Juga: Perjalanan Penuh Sensasi Bersama Kereta Suite Class Kompartemen
Wahida Okta Khoirunnisa turut menambahkan dari wawancara yang dilakukan kepada Wong Tengger diketahui ada ketimpangan pengetahuan dan kuasa yang mengakibatkan ketidakberdayaan dalam pemanfaatan wilayah adat yang secara historis sudah mereka miliki sejak dahulu kala.
Wong Tengger juga merasa hanya menjadi wong cilik (orang kecil) sehingga tidak memiliki kuasa untuk ikut andil dalam pembangunan.
“Permasalahan antara Wong Tengger dengan pihak otorita TNBTS secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga yakni ketidakseimbangan kekuasaan, transfer pengetahuan yang tidak lancar, dan kurangnya kepercayaan yang terbangun antar sesama,” urainya.
Baca Juga: Kabar Gembira! Kemarau Kering Diprediksi Berakhir di Akhir Oktober 2023
Iswan Bahri menjelaskan bahwa gesekan kedua pihak tersebut sangat terlihat dalam pembangunan proyek Gunung Gendhing yang sempat menjadi kontroversi di kalangan Wong Tengger.
Proyek tersebut dikatakan tidak melibatkan persetujuan masyarakat adat. Padahal, proyek yang dibangun itu berada pada tanah yang dianggap sakral oleh masyarakat Tengger.
Sementara Berlin Situmorang menambahkan justru Wong Tengger yang telah memiliki basis pengetahuan lokal tradisional dapat dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan.
Baca Juga: M Bloc Fest 2023 Hari Ini Resmi Digelar Tiga Pekan!
Pengetahuan lokal tersebut terwujud dalam sistem worldview yang telah turun temurun dilakukan oleh Wong Tengger. Worldview Wong Tengger menjadi penting untuk dijadikan jawaban atas permasalahan yang terjadi.***
Artikel Terkait
Menparekraf: Wacana Tiket Terusan di Taman Nasional Komodo Masih Akan Dibahas
Naik Phinisi di Perairan Taman Nasional Komodo, Menparekraf: Sensasinya Luar Biasa
Menparekraf: Kenaikan Tiket Masuk Taman Nasional Komodo Ditunda hingga 2023
Elang Jawa ‘Ragil’, Penguasa Baru Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Kentalnya Budaya di Desa Wisata Tebara Bikin Semangat Membara untuk Berwisata