“Saya sangat menyukai kayu dari kecil, sehingga saya ingin terus membuat karya dari kayu ini dan berkreasi dengan kayu. Tidak ada tantangan bagi saya membuat kayu, karena saya suka. Garuda dari kayu ini hasil karya saya, yang penting semangat terus,” ujarnya dengan senang.
Baca Juga: Pelaku Industri Ajak Mahasiswa Terjun ke Green Job
Tak jauh dari situ, ada karya seni mural hasil lukisan anak-anak tuna rungu. Salah satunya, Arindra dari SLB Negeri 01 Jakarta yang suka melukis dari sejak kecil.
“Dalam melukis, ada empat tahap yaitu memikirkan tentang gambar yang ingin dibuat, berpikir tentang tema, membuat sketsa, dan mewarnai. Tidak ada kesulitan dalam melukis. Untuk ke depannya, saya ingin menjadi pelukis yang hebat bahkan sampai tingkat internasional,” ungkap Arindra.
Ada juga stan pameran milik SLB Negeri 06 Jakarta yang memamerkan karya seni lukis ecoprint karya anak tuna rungu bernama Destin. Ia menyukai seni ecoprint sejak kecil dan belajar ketrampilan ini dari SMP kelas 7.
Baca Juga: Film Terbaru Robert Pattinson Disutradarai Bong Joon Ho
“Kesulitan dalam membuat ini hanya sedikit saja dan yang menarik dari ecoprint ini adalah sebuah produk yang paling dikenal di masyarakat," tutur Destin dalam penyampaiannya diterjemahkan oleh guru pendamping melalui bahasa isyarat.
"Saya orangnya suka berkarya dan telaten dalam mewarnai ecoprint ini. Selanjutnya setelah lulus saya mau menjadi pengusaha seni ecoprint ini,” imbuhnya.
Tika, guru SLB Negeri 06 Jakarta yang mendampingi Destin berharap dengan kreativitas yang dimiliki oleh anak-anak disabilitas, bisa menjadi bekal untuk masa depannya kelak.
Baca Juga: Tim Pelajar Indonesia Raih 6 Medali di The 20th International Junior Science Olympiad
“Kami para guru mengharapkan agar anak-anak ini setelah lulus dapat membawa ilmunya di lapangan kerja selanjutnya dan lebih banyak kegiatan di sekolah. Kami harap ada lapangan kerja untuk anak-anak kami di SLB Negeri 06 Jakarta,” ungkap Tika.
Selain memamerkan produk karya dari anak-anak disabilitas, pameran ini juga diikuti oleh UMKM yang dikelola oleh penyandang disabilitas dari berbagai lokasi di Jabodetabek.
Salah satunya, Ahmad Hilmy Almusawa, pemilik Dari Mata Hati Koffie. Hilmy merupakan penyandang disabilitas, tunanetra, low vision.
Baca Juga: Perkuat Ekosistem Sastra Nasional, Badan Bahasa Gelar Pentas Karya Komunitas Sastra
Sejak kecil, Hilmy mengaku memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi pada kopi. Kecintaannya pada kopi berawal dari ibunya yang sering membiasakan Hilmy membuat kopi di pagi hari. Itulah yang membuat Hilmy terinspirasi untuk meracik kopi sendiri dan membuka usaha Blend Coffee Me.
Artikel Terkait
Begini Cara Dapatkan Diskon 20 Persen bagi Penumpang Disabilitas Kereta Api
Aulia Rachmi Kurnia, Mahasiswa Disabilitas Netra UGM Juara 1 Kejurda Catur Paralimpik II NPC DIY 2023
Mengenal Mushaf Al-Qur’an Isyarat untuk Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara
Menguak Fenomena Blindsight Atlet Judo Disabilitas Netra
Kemenag Susun Dhammapada Braille untuk Penyandang Disabilitas Netra