7 Januari 1989: Tertawa dan Kekuasaan

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Minggu, 7 Januari 2024 | 09:27 WIB
Indonesia Tertawa (Dedy Tri Riyadi / Playground AI)
Indonesia Tertawa (Dedy Tri Riyadi / Playground AI)

TINEMU.COM - Pada 1989, Indonesia masih berjudul besar Orde Baru. Tokoh utama tetap Soeharto.

Dua kata paling laris belum tergantikan: pembangunan nasional. Indonesia memiliki masalah-masalah besar tapi selalu saja “diselesaikan” dengan pidato-pidato mengakibatkan tidur.

Di Indonesia, orang-orang terus membaca berita-berita meski memilih ketagihan gosip.

Kemakmuran belum terwujud. Para pejabat tetap “melaporkan” Indonesia bakal bergabung dengan negara-negara maju.

Mereka malu jika Indonesia tetap dicap “negara berkembang” dan “negara tertinggal”. Pada suatu masa, impian terbesar itu dibahasakan Indonesia sedang “tinggal landas”.

Orang-orang mengerti Indonesia memilih tertawa sinis. Mereka sadar sedang mendapat bualan pemerintah. Mereka menganggap para pejabat sedang melawak tapi mustahil lucu.

Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (301)

Kita mengenang masa Orde Baru dengan membaca lagi tajuk rencana di Kompas, 7 Januari 1989. Tulisan dimuat dalam buku berjudul Membuka Cakrawala: 25 Tahun Indonesia dan Dunia dalam Tajuk Kompas (1990).

Buku kelak bakal menjadi sumber penting untuk orang-orang mau mengisahkan dan menjelaskan Indonesia.

Paragraf pembuka: “Di masa lampau, ketika gencar-gencarnya indoktrinasi Manipol/Usdek, gencar pula berkembang-biaknya ungkapan-ungkapan yang bernada humor. Ada kritikan dan sindiran di dalamnya, akan tetapi yang sangat kuat kesan-pesan dan dampaknya adalah humornya. Orang dibuatnya tertawa geli.”

Paragraf ingin “aman” ketimbang lekas memberi serangan-serangan menuju elite politik menggerakkan Orde Baru.

Pada masa kekuasaan Soekarno, humor bertumbuh meski di hadapan para pengumbar revolusi.

Baca Juga: Jalur Haurpugur – Cicalengka Sudah Dapat Dilewati Kereta Api dengan Kecepatan Terbatas

Humor justru melemaskan otot-otot politik. Tertawa mengubah hari-hari temaram menjadi agak terang.

Pada masa lalu, tertawa kadang terlarang tapi memberi ajakan pembebasan dan perlawanan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X