Ia tentu tekun membuat tulisan-tulisan bakal dibaca dunia. Di Amerika Serikat, Gibran bergerak di sastra dan seni rupa. Ia bergairah meski mengalami terpuruk dan nelangsa.
Kita kembali ke surat. Gibran tampil sebagai pembujuk ulung dalam usaha menikmati kebersamaan dan lukisan: “Maukah kau mengajukan keningmu lebih mendekat? Semoga Tuhan menyiramkan cahayanya pada kening yang cantik itu. Amin.”
Gibran menjerat dan memikat dengan kata-kata. Begitu.**
Artikel Terkait
Mengenal Rosa Luxemberg, Aktivis Sosial Anti Perang
Sumbu Kosmologis Yogyakarta, Konsep Tata Ruang Kota Gudeg yang Sarat Makna
16 Januari 1984: Sunda dan Indonesia