17 Januari 1924: Lukisan, Kota, Perempuan

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Rabu, 17 Januari 2024 | 15:13 WIB
Kahlil Gibran  (Playground AI)
Kahlil Gibran (Playground AI)

Gibran tak cuma menulis nama Spinoza. Ia pasti pembaca buku-buku filsafat.

Kita mengingat masa lalu: Gibran, Boston, dan lukisan. Ia berasal dari Lebanon, tinggal di Amerika Serikat.

Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (311)

Ingatan dituliskan: “Ketika aku masih amat muda, aku biasa mengunjungi Public Library (Boston) dan berdiri terpana di depan lukisan-lukisan. Hari ini aku sekali lagi berada di Boston… Tadi aku berdiri di depan lukisan-lukisan yang sama bersama kekasihku Miriam di sisiku. Di lukisan-lukisan itu, aku melihat suatu kecantikan yang belum pernah kulihat pada tahun-tahun yang lalu.”

Pengalaman berbeda di hadapan lukisan. Dulu, Gibran di situ sendiri. Pada masa dan situasi berbeda, ada perempuan di samping Gibran.

Pengalaman tak lagi sama dengan keterpukauan terdahulu. Gibran mengatakan: “Tapi, seandainya Miriam tidak berada bersamaku, aku tidak melihat apa-apa karena mata tanpa cahayanya hanyalah sekadar sebuah lubang pada wajah, tidak kurang, tidak lebih.”

Baca Juga: Laksamana Sukardi : Hukum di Indonesia Masih Dikuasai Kepentingan Politik

Gibran memberi kalimat mengejutkan. Lukisan sempurna dengan kehadiran dan tatapan perempuan.

Kita membuka buku berjudul Kahlil Gibran: Man and Poet (2000) susunan Suheil Bushrui dan Joe Jenkins.

Di Boston, Gibran mendapat pergaulan menggembirakan dengan kalangan pelukis. Ia biasa diajak mengunjungi galeri-galeri.

Ia makin keranjingan melukis setelah selesai dari pengembaraan di Paris. Boston menjadi tempat ia menunaikan hasrat melukis.

Pada suatu hari, Gibran membuat lukisan dipersembahkan kepada “kekasih”. Lukisan berjudul The Bebolder.

Baca Juga: DEATH- Anomali Dunia Musik Rock (Bag.2)

Sang perempuan mempelajari lukisan dan membuat tafsir empat halaman.

Gibran menikmati hari-hari membuat lukisan dengan kemunculan beragam tafsir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X