TINEMU.COM - Di buku-buku terjemahan bahasa Indonesia, kita pernah melihat lukisan-lukisan buatan Kahlil Gibran.
Pustaka Jaya cukup mengenalkan Kahlil Gibran sebagai pelukis meski penampilan buku kurang memikat.
Buku-buku Gibran terbitan Bentang sering tampil menarik perhatian. Di buku Sang Nabi, gambar di sampul dibuat pelukis Indonesia.
Gambar itu Kahlil Gibran berkumis dan berkopiah. Di seri terbitan Bentang, kita melihat gambar-gambar Alfi.
Sajian sampul mengesankan. Bentang pun memuat lukisan-lukisan Gibran: hitam-putih. Kita paling ingat dengan kata-kata ketimbang lukisan.
Baca Juga: Aeroscue Raksa Dirgantara, Komunitas Relawan untuk Pencarian dan Pertolongan
Di Indonesia, Gibran itu pencerita dan pemberi kata-kata bijak.
Sejak dulu, Gibran itu terkenal sebagai pengarang dan pelukis. Kita saja tak memberi perhatian besar untuk lukisan-lukisan Gibran.
Ratusan buku edisi terjemahan bahasa Indonesia terbit di Indonesia dibaca ribuan orang, dari masa ke masa. Mereka ingat kutipan-kutipan, bukan lukisan.
Seratus tahun silam, 17 Januari 1924, terbaca kalimat-kalimat dalam surat ditulis Gibran. Surat pendek tapi romantis.
Gibran mengungkapkan: “Ketika hidupku masih pagi, aku biasa mengatakan de Chavannes adalah pelukis Prancis terbesar setelah Declaroix dan Carrriere, tapi sekarang aku sudah mencapai sore hidupku, aku akan mengatakan bahwa de Chavannes, tanpa kecuali, pelukis terbesar abad XIX karena semua pelukis, dia punya hati paling sederhana, pikiran paling sederhana, bentuk ekspresi paling sederhana, dan keinginan paling murni.”
Baca Juga: Songwriters Festival 2024, Momentum Edukasi HKI bagi Pencipta Lagu
Pujian-pujian diberikan membuktikan Gibran mengikuti sejarah dan perkembangan seni rupa di dunia, terutama Eropa dan Amerika Serikat.
Ia bukan sekadar penikmat lukisan-lukisan. Nama-nama penting diketahui dengan biografi dan capaian estetika.
Pada suatu masa, Gibran pun tercatat sebagai pelukis. Kalimat penting: “Aku bahkan akan melanjutkan berkata bahwa di antara pelukis, ia menyerupai Spinoza di kalangan filosof.”
Artikel Terkait
Mengenal Rosa Luxemberg, Aktivis Sosial Anti Perang
Sumbu Kosmologis Yogyakarta, Konsep Tata Ruang Kota Gudeg yang Sarat Makna
16 Januari 1984: Sunda dan Indonesia