Menyingkap Awal Sejarah di Prasasti Yupa dan Padang Lawas

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Jumat, 25 Juli 2025 | 15:09 WIB
Seminar mambahas Prasasti Yupa dan Prasasti Padang Lawas. (brin.go.id)
Seminar mambahas Prasasti Yupa dan Prasasti Padang Lawas. (brin.go.id)

TINEMU.COMPrasasti Yupa adalah tiang batu berisi tulisan (prasasti) yang merupakan peninggalan Kerajaan Kutai, kerajaan tertua di Indonesia. Prasasti yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan huruf Pallawa ini dibuat sekitar tahun 350-400 masehi.

Prasasti Yupa berbentuk tiang batu yang berfungsi untuk mengikat hewan kurban yang dipersembahkan untuk para dewa. Dari tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan, empat di antaranya ditemukan pada 1879, sedangkan tiga lainnya pada 1940.

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Titi Surti Nastiti memaparkan bahwa tujuh prasasti Yupa dibuat oleh Raja Mulawarman pada abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Baca Juga: Perkuat Ekosistem Pariwisata, Kemenpar Luncurkan Wonderful Indonesia Scale-up Hub 2025

Prasasti-prasasti Yupa tidak hanya mencatat silsilah tiga generasi keluarga kerajaan yaitu Kundungga, Aswawarman, dan Mulawarman, tetapi juga menggambarkan kehidupan politik, spiritual, dan ekonomi pada masa itu.

Salah satu prasasti menyebutkan persembahan emas dan 20.000 ekor sapi untuk para Brahmana, yang menurutnya bukan sekadar simbol kemewahan melainkan ukuran kemakmuran dan legitimasi kekuasaan raja dalam pandangan masyarakat Weda.

"Yupa adalah tonggak penting dimulainya sejarah tertulis di Nusantara, sekaligus bukti kuat adanya interaksi budaya dan diplomasi dengan peradaban India. Ini terlihat dari penggunaan bahasa Sanskerta dan ritual keagamaan yang terekam dalam prasasti," papar Titi dalam seminar yang digelar BRIN pada Selasa, 22 Juli 2025, di Jakarta.

Baca Juga: Serunya Edutrain di LRT Jabodebek, Kenalkan Transportasi Publik Sejak Dini

Peneliti BRIN lainnya, Gunadi Kasnowihardjo menambahkan, kawasan Muara Kaman merupakan pusat aktivitas perdagangan dan perniagaan di Kalimantan Timur pada masa lalu. Itu berkat lokasinya yang strategis di pertemuan Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Rantau.

"Temuan arkeologis seperti keramik Tiongkok, manik-manik, serta struktur batu di Danau Lipan dan Tanjung Serai memperkuat dugaan bahwa Muara Kaman adalah pelabuhan sungai penting yang menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan jalur perdagangan internasional," terangnya.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Indonesia Hidden Heritage Creative Hub, Nova Farida Lestari menekankan pentingnya komunikasi publik dalam pelestarian warisan budaya.

Baca Juga: Killa The Pia dan Rapai Pasee Raja Buwah Persembahkan 'Hitam' untuk Hari Anak Nasional

Ia meyakini bahwa mengangkat kembali narasi sejarah melalui cara yang inovatif dapat memperkuat kesadaran budaya, sekaligus mendukung pengakuan internasional, seperti pengusulan Yupa sebagai Memory of the World UNESCO.

Prasasti Padang Lawas

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: brin.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X