TINEMU.COM - Prasasti Yupa adalah tiang batu berisi tulisan (prasasti) yang merupakan peninggalan Kerajaan Kutai, kerajaan tertua di Indonesia. Prasasti yang ditulis dalam bahasa Sanskerta dengan huruf Pallawa ini dibuat sekitar tahun 350-400 masehi.
Prasasti Yupa berbentuk tiang batu yang berfungsi untuk mengikat hewan kurban yang dipersembahkan untuk para dewa. Dari tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan, empat di antaranya ditemukan pada 1879, sedangkan tiga lainnya pada 1940.
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Titi Surti Nastiti memaparkan bahwa tujuh prasasti Yupa dibuat oleh Raja Mulawarman pada abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Baca Juga: Perkuat Ekosistem Pariwisata, Kemenpar Luncurkan Wonderful Indonesia Scale-up Hub 2025
Prasasti-prasasti Yupa tidak hanya mencatat silsilah tiga generasi keluarga kerajaan yaitu Kundungga, Aswawarman, dan Mulawarman, tetapi juga menggambarkan kehidupan politik, spiritual, dan ekonomi pada masa itu.
Salah satu prasasti menyebutkan persembahan emas dan 20.000 ekor sapi untuk para Brahmana, yang menurutnya bukan sekadar simbol kemewahan melainkan ukuran kemakmuran dan legitimasi kekuasaan raja dalam pandangan masyarakat Weda.
"Yupa adalah tonggak penting dimulainya sejarah tertulis di Nusantara, sekaligus bukti kuat adanya interaksi budaya dan diplomasi dengan peradaban India. Ini terlihat dari penggunaan bahasa Sanskerta dan ritual keagamaan yang terekam dalam prasasti," papar Titi dalam seminar yang digelar BRIN pada Selasa, 22 Juli 2025, di Jakarta.
Baca Juga: Serunya Edutrain di LRT Jabodebek, Kenalkan Transportasi Publik Sejak Dini
Peneliti BRIN lainnya, Gunadi Kasnowihardjo menambahkan, kawasan Muara Kaman merupakan pusat aktivitas perdagangan dan perniagaan di Kalimantan Timur pada masa lalu. Itu berkat lokasinya yang strategis di pertemuan Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Rantau.
"Temuan arkeologis seperti keramik Tiongkok, manik-manik, serta struktur batu di Danau Lipan dan Tanjung Serai memperkuat dugaan bahwa Muara Kaman adalah pelabuhan sungai penting yang menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan jalur perdagangan internasional," terangnya.
Pada kesempatan tersebut, Direktur Indonesia Hidden Heritage Creative Hub, Nova Farida Lestari menekankan pentingnya komunikasi publik dalam pelestarian warisan budaya.
Baca Juga: Killa The Pia dan Rapai Pasee Raja Buwah Persembahkan 'Hitam' untuk Hari Anak Nasional
Ia meyakini bahwa mengangkat kembali narasi sejarah melalui cara yang inovatif dapat memperkuat kesadaran budaya, sekaligus mendukung pengakuan internasional, seperti pengusulan Yupa sebagai Memory of the World UNESCO.
Artikel Terkait
Tong Bajil, Antara Kisah Fiksi Tutur Tinular dan Prasasti Bendosari
Kucing dalam Budaya dan Sejarah Dunia
Kehidupan Mewah Anjing Peliharaan dalam Sejarah
Buku 'The Jakarta Salon': Menyoroti Kiprah Kolektor dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia
Sejarah Berbingkai Puisi: Antara Memori dan Jejak Catatan Kaki