Prasasti Hindu-Buddha Padang Lawas di Sumatera Utara berasal dari abad ke-11 hingga ke-14 Masehi. Meskipun menggunakan aksara Sumatera kuno, prasasti-prasasti tersebut banyak mengandung kata-kata dari bahasa Melayu kuno yang merupakan turunan dari bahasa Proto-Austronesia.
"Melalui analisis morfem bebas dan morfem terikat, ditemukan jejak akulturasi antara bahasa lokal dengan pengaruh Sanskerta," tutur Peneliti BRIN, Churmatin Nasoichah.
Baca Juga: Ini Dia Lagu Base Jam dan Theana Alexandra untuk Hari Anak Nasional!
Hal ini membuktikan bahwa nenek moyang Nusantara tidak hanya menerima pengaruh budaya India secara pasif, tetapi juga mengadaptasinya sesuai dengan karakteristik lokal. Yang kemudian, menghasilkan warisan linguistik yang menjadi akar bahasa Melayu dan bahkan bahasa Indonesia modern.***
Artikel Terkait
Tong Bajil, Antara Kisah Fiksi Tutur Tinular dan Prasasti Bendosari
Kucing dalam Budaya dan Sejarah Dunia
Kehidupan Mewah Anjing Peliharaan dalam Sejarah
Buku 'The Jakarta Salon': Menyoroti Kiprah Kolektor dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia
Sejarah Berbingkai Puisi: Antara Memori dan Jejak Catatan Kaki