temu-lawas

17 Januari 1924: Lukisan, Kota, Perempuan

Rabu, 17 Januari 2024 | 15:13 WIB
Kahlil Gibran (Playground AI)

TINEMU.COM - Di buku-buku terjemahan bahasa Indonesia, kita pernah melihat lukisan-lukisan buatan Kahlil Gibran.

Pustaka Jaya cukup mengenalkan Kahlil Gibran sebagai pelukis meski penampilan buku kurang memikat.

Buku-buku Gibran terbitan Bentang sering tampil menarik perhatian. Di buku Sang Nabi, gambar di sampul dibuat pelukis Indonesia.

Gambar itu Kahlil Gibran berkumis dan berkopiah. Di seri terbitan Bentang, kita melihat gambar-gambar Alfi.

Sajian sampul mengesankan. Bentang pun memuat lukisan-lukisan Gibran: hitam-putih. Kita paling ingat dengan kata-kata ketimbang lukisan.

Baca Juga: Aeroscue Raksa Dirgantara, Komunitas Relawan untuk Pencarian dan Pertolongan

Di Indonesia, Gibran itu pencerita dan pemberi kata-kata bijak.

Sejak dulu, Gibran itu terkenal sebagai pengarang dan pelukis. Kita saja tak memberi perhatian besar untuk lukisan-lukisan Gibran.

Ratusan buku edisi terjemahan bahasa Indonesia terbit di Indonesia dibaca ribuan orang, dari masa ke masa. Mereka ingat kutipan-kutipan, bukan lukisan.

Seratus tahun silam, 17 Januari 1924, terbaca kalimat-kalimat dalam surat ditulis Gibran. Surat pendek tapi romantis.

Gibran mengungkapkan: “Ketika hidupku masih pagi, aku biasa mengatakan de Chavannes adalah pelukis Prancis terbesar setelah Declaroix dan Carrriere, tapi sekarang aku sudah mencapai sore hidupku, aku akan mengatakan bahwa de Chavannes, tanpa kecuali, pelukis terbesar abad XIX karena semua pelukis, dia punya hati paling sederhana, pikiran paling sederhana, bentuk ekspresi paling sederhana, dan keinginan paling murni.”

Baca Juga: Songwriters Festival 2024, Momentum Edukasi HKI bagi Pencipta Lagu

Pujian-pujian diberikan membuktikan Gibran mengikuti sejarah dan perkembangan seni rupa di dunia, terutama Eropa dan Amerika Serikat.

Ia bukan sekadar penikmat lukisan-lukisan. Nama-nama penting diketahui dengan biografi dan capaian estetika.

Pada suatu masa, Gibran pun tercatat sebagai pelukis. Kalimat penting: “Aku bahkan akan melanjutkan berkata bahwa di antara pelukis, ia menyerupai Spinoza di kalangan filosof.”

Halaman:

Tags

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB