temu-lawas

100 Tahun Slametmuljana, Pemikir Bahasa Indonesia

Minggu, 24 Juli 2022 | 19:57 WIB
Buku-Buku karya Prof. Dr. Slametmuljana (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Maret berlalu dan ingatan datang terlambat. Kita telat mengenang 100 tahun Slametmuljana (21 Maret 1922-2 Juni 1986). Pada masa lalu, ia tokoh berpengaruh dengan puluhan buku. Orang-orang mengetahui ia menekuni bahasa, sastra, dan sejarah.

Di kalangan sejarawan, ia pernah menimbulkan polemik gara-gara penjelasan-penjelasan tentang Wali Songo. Di kepustakaan bahasa, Slamet Muljana turut berperan dalam perkembangan bahasa Indonesia, sejak masa 1950-an. Di kesusastraan, Slametmuljana tercatat tapi lekas berada di pinggiran atau jarang mendapat perhatian.

Ia mewariskan puluhan buku, belum tentu semua masih selamat atau lestari dengan tersimpan di Perpustakaan Nasional atau perpustakaan di sekian perguruan tinggi besar di seantero Indonesia. Kita jarang memasalahkan bila buku-buku “membenarkan” dan “mengesahkan” cara kita menghormati tokoh dan menilik sejarah meski penggalan-penggalan.

Baca Juga: Trisula Album Nicky Astria: Gersang (Bagian 3- Tamat)

Slametmuljana, nama tercantum dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (1990) susunan Pamusuk Eneste. Di situ, kita membaca judul buku-buku terbit membuktikan ketekenunan dan gairah Slametmuljana memikirkan bahasa, sastra, dan sejarah.

Kini, kita sejenak mengingat dan memberi hormat atas peran mengurusi bahasa. Slamet Muljana wajib dicatat album tokoh bahasa di Indonesia.

Pada 1965, Slametmuljana menerangkan: “Djika pada djaman kolonial bangsa Indonesia tidak ikut serta mengambil bagian dalam penelitian bahasa daerah dan bahasa nasional, maka setelah pengakuan kemerdekaan para peminat bahasa nasional bergerak serentak dalam pelbagai bidang, terdorong oleh kesadaran nasionalnja. Meskipun saat ini hasil penelitiannja belum seperti jang diharapkan, namun telah nampak pula hasil-hasilnja.”

Slametmuljana turut dalam mengadakan penelitian-penelitan. Sekian esai dan buku membuktikan keinginan memberi terang sejarah bahasa Indonesia. Ia pun sadar dengan tanggung jawab membuat buku-buku untuk dipelajari para murid dan guru.

Baca Juga: Trisula Album Nicky Astria: Tangan-Tangan Setan (Bagian 2)

Sekolah dengan buku-buku pelajaran bahasa Indonesia dan buku-buku pendamping dianggap menentukan perkembangan bahasa Indonesia. Pada masa 1950-an, Slametmuljana bersama B Simorangkir Simandjuntak membuat buku berjudul Ragam Bahasa Indonesia diterbitkan JB Wolters, Jakarta-Groningen.

Penjelasan dalam buku: “… maksud dan tudjuan buku ini bukanlah mendjadi ramuan peladjaran ilmu sjaraf dan djalan bahasa, melainkan meminta dan mengarahkan perhatian peladjar dan peminat sastera kepada beberapa bentuk dan susunan bahasa jang biasanja kurang mendapat perhatian dalam peladjaran bahasa.”

Buku terbit dan dipelajari untuk memajukan bahasa Indonesia. Slametmuljana tak sekadar membuat buku tapi sadar dampak dari kemauan belajar bahasa Indonesia bagi murid-murid. Penggunaan bahasa Indonesia dalam urusan-urusan keilmuan dan keseharian memungkinkan terang dan girang untuk masa depan bahasa Indonesia.

Baca Juga: Trisula Album Nicky Astria: Jarum Neraka (Bagian 1)

Di situasi revolusi, bahasa Indonesia dibentuk dan dikembangkan. Pengaruh bahasa-bahasa asing terus bertambah saat para ahli ingin menguatkan corak nasional. Bahasa menjadi masalah besar dalam revolusi tapi bukan terbesar. Penulisan buku-buku dan pelajaran di sekolah cukup memberi bukti bahasa Indonesia ingin bermartabat dengan segala konsekuensi.

Keterangan lanjutan: “Terpaksa djuga kami dalam buku ini mempergunakan istilah-istilah asing, jang sampai sekarang belum ada istilah Indonesianja jang tepat. Tetapi menurut pandangan kami untuk sementara baiklah nama itu dipergunakan sadja, sebab jang penting sebenarnja bukanlah istilahnja, tetapi isi serta bagaimana hendaknja susunan kata dalam gaja-bahasa karangan.”

Halaman:

Tags

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB