Pada 1957, terbit buku susunan Slametmuljana berjudul Kaidah Bahasa Indonesia. Buku cukup sulit dipelajari bagi kita masa sekarang. Buku diterbitkan Djambatan dalam babak awal perkembangan bahasa Indonesia diajarkan di sekolah-sekolah dengan selera nasional, berjarak atau berpisah dari warisan pelajaran bahasa Indonesia oleh para sarjana kolonial (Eropa).
Baca Juga: Review Shoah: Salah Satu Film Paling Mulia yang Pernah Dibuat
Kita pelajari penjelasan Slametmuljana tentang “kata pemisah”. Ia menerangkan masalah penggunaan “jang”. Di buku, tertulis: “Sebagai kata pembantu atau pendjelas kata benda, kata pemisah pun bermaksud akan menguatkan kata benda djuga. Adapun tjara menguatkan langsung dengan djalan memisahkan atau mengasingkan kata benda jang bersangkutan dengan kata benda lainnja jang sekelompok.”
Dulu, belajar bahasa Indonesia tak mudah. Kini, kita masih mengakuti sulit bergairah belajar bahasa Indonesia. Kita mungkin tak sesuai pengharapan Slametmuljana saat rajin menulis buku menginginkan orang-orang mahir berbahasa Indonesia. Begitu.**
Artikel Terkait
Majalah Hai dan Dua Orang Tokoh
Muhammadiyah: Besar dan Tua
Membayangkan Pieter Both Sosok Pelopor Penjajahan VOC Belanda di Nusantara
Pertama dalam Sejarah Jawa, Raffles Menjarah Keraton Jogja
Mesin Tik, Saksi Bisu Evolusi Pekerjaan Penulis