Pada saat membaca, Durjana sempat terkejut. Acara fantastis diselenggarakan di negara agraris. Keterangan: “Suasananya seperti di kebun pisang. Dan kue pisang raksasa akan menakjubkan pandangan mata. Ada operet tentang tragedi pisang harum.”
Di sana, ada pesta imajinasi. Pisang dalam garapan seni. Pemahaman pisang telah berlebihan tapi belum sanggup mengukuhkan Indonesia sebagai “Republik Pisang” berbeda misi dari sindiran pengarang asal Amerika Serikat.
Pesta Pisang mendapat restu Ibu Tien Soeharto. Kita menduga piala diberikan tak berbentuk pisang. Selama puluhan tahun, bentuk piala selalu “itu-itu” saja. Pada masa 1980-an, pisang telah tenar dan bermakna politis gara-gara peran Ibu Negara.
Baca Juga: Presiden Jokowi Ajak PM Australia Naik Sepeda Bambu di Istana Bogor
Pada situasi berbeda, Durjana membaca Bobo, 9 Januari 2020. Tema besar diajukan untuk para bocah: pisang. Di kulit muka, gambar imajinasi berpisang. Judul besar dicantumkan: “Indonesia Negeri Pisang”.
Durjana mengira itu siasat pengajaran pisang untuk bocah-bocah di seantero Indonesia menggemari pisang meski mereka kadang memberi sebutan dengan bahasa Inggris. Mereka mungkin bangga bila mengatakan itu “banana”.
Dua halaman dalam Bobo menjelaskan pisang. Durjana mengutip: “Di Indonesia terdapat sekitar 230 jenis pisang, lo! Paling banyak di dunia. Oleh karena itu, Indonesia bisa disebut ‘negeri pisang”. Negeri yang kaya akan jenis pisang.”
Keterangan-keterangan pendek disertai gambar-gambar bikin lapar. Indonesia bergelimang pisang. Sekian presiden belum pernah mengeluarkan kebijakan resmi untuk meresmikan Indonesia sebagai “negeri pisang”. Durjana menganggap itu belum perlu.
Baca Juga: Cegah Terpapar Covid, Ini Imbauan Kemenag ke Jemaah Haji Indonesia
Durjana malah berpikiran ada kerja besar melakukan pendokumentasian pisang melalui puisi, cerita pendek, lukisan, lagu, dan lain-lain.
Pisang melampaui pengertian tanaman dan makanan. Ikhtiar artistik mungkin menjadikan pisang bergelimang cerita, tak selalu dipikirkan komoditas menghasilkan uang. Durjana pun berharap tak ada orang berani membentuk partai politik berlogo pisang. Begitu.**
Artikel Terkait
Ende, Pohon Sukun, dan Lahirnya Pancasila
Opini Bandung Mawardi: Tagore, Komet, dan Bir
Opini Bandung Mawardi: Humor (Ingin) Bermutu dan Beruntung