Opini Bandung Mawardi: Indonesia Bergelimang Pisang

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 7 Juni 2022 | 10:36 WIB
Sampul Majalah Bobo tentang Pisang (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Sampul Majalah Bobo tentang Pisang (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Pemandangan indah diperoleh di kebun samping rumah, kebun milik tetangga. Durjana biasa melihat pohon-pohon pisang. Bertumbuh dan memberi buah tanpa menanti siraman air atau doa dari Durjana.

Pohon-pohon mengerti nasib dan berbagi. Durjana melihat dan kagum. Pohon pisang berbuah bukan jatah Durjana tapi dimiliki tetangga. Durjana ingin makan pisang mesti menanti kenduri atau undangan hajatan di kampung.

Pisang kadang memberi nikmat. Pisang kadang terlihat saja di pohon, tak termiliki. Dulu, Durjana saat remaja biasa berkomplot dengan teman-teman untuk pencurian buah pisang.

Baca Juga: Tim BMKG CSIRT Siap Antisipasi Serangan Siber

Di kebun para tetangga bila buah pisang sudah tampak menguning itu sasaran terindah. Kini, Durjana tak lagi mencuri.

Pisang itu tema. Pada abad XXI, pisang masih tema besar. Di Kedaulatan Rakyat, 2 Juni 2022, terbaca opini dari Prof Dr Fahmi Amhar mengenai pisang pernah disebut “tanaman surga”.

Artikel pendek tapi ingin mengungkapkan apa saja. Durjana mengutip pisang mengandung pamrih politik: “Maka di ilmu politik muncul istilah ‘Republik Pisang’. Itu gambaran negara yang secara politik dan ekonomi bergantung ekspor sumber daya alam, semisal pisang. Tahun 1904, penulis Amerika, O Henry, menciptakan istilah itu untuk menggambarkan Honduras dan sekitarnya yang berada di bawah eksploitasi perusahaan AS United Fruit Company. Perusahaan ini berkepentingan agar bibit pisang unggul tetap di mereka. Setiap upaya pemuliaan pisang di tempat lain akan dihalangi.”

Baca Juga: Singgih Susilo Pelopor Gerakan Kembali ke Desa Lewat Pasar Papringan Ngadiprono (2)

Pisang menghasilkan laba besar. Pisang dalam permainan politik. Durjana tak terlalu kaget. Artikel itu mengutip dari pengarang tinggal di negara jauh. Durjana belum mengetahui kutipan dari cerita pendek atau esai.

Durjana cuma teringat pisang setelah khatam Anak Bajang Mengayun Bulan (2022) garapan Sindhunata. Pengisahan “pisang emas”, memunculkan nasib tak sama untuk dua sosok bersaudara: Sumantri dan Sukrosono. Pencarian “pisang emas” dan tata cara makan menimbulkan akibat-akibat tak terduga membuat Durjana terharu.

Sekian hari setelah memikirkan Anak Bajang Mengayun Bulan, Durjana menunda untuk menikmati pisang. Kesan-kesan cerita masih terbawa dan memberi bingung tak berkesudahan. Pada babak berbeda, “pisang emas” itu sampai ke urusan politik dan asmara.

Di sejarah Indonesia, pisang pernah berdekatan politik. Di Balai Sidang Jakarta, 22-23 April 1986 diadakan Pesta Pisang. Pemberian hadiah berupa Piala Tien Soeharto bagi pemenang lomba resep pisang. Acara lucu setelah dua tahun dari swasembada pangan (beras) membuat Soeharto moncer di dunia.

Baca Juga: Singgih Susilo Perancang Sepeda Bambu yang Dipakai Jokowi dan PM Australia (1)

Pesta Pisang tak ingin berhasrat mengumumkan swasembada pisang dengan tokoh utama Ibu Tien Soeharto. Pengumuman acara itu terbaca dalam majalah Kartini, 24 Februari-9 Maret 1986.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X