TINEMU.COM - Mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) mengembangkan alternatif terapi untuk menangani luka kronis hiperglikemia. Selain itu juga terapi untuk mengatasi resistensi antibiotik MRSA dengan nilai yang lebih ekonomis dan efektif.
Ketua tim peneliti, Dwi Ardyan Syah Mustofa (mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan) menjelaskan bahwa mereka memanfaatkan senyawa kurkuminoid dan Collagen Marine Peptides (CMPs) untuk terapi luka hiperglikemia terinfeksi MRSA.
Ide pemanfaatan senyawa kurkuminoid dan Collagen Marine Peptides untuk terapi luka hiperglikemia terinfeksi MRSA ini digagas Dwi Ardyan bersama empat rekannya, yakni Farhan Dio Sahari (FKH), Syifa Aulia Pramudani (FKH), Alifia Brilliani Hidayah (Fakultas Farmasi), dan Shabrina Farras Tsany (FKKMK) di bawah bimbingan Prof. Dr. drh. Siti Isrina Oktavia Salasia.
Baca Juga: Ingin Berkarier di Industri Retail? Ikuti Erajaya Career Fest 2023
Riset ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE) yang memperoleh pendanaan dari Kemendibudristek dan berhasil lolos dalam kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2023.
Saat ini, hiperglikemia masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di bebagai negara, termasuk Indonesia. Menurut International Diabetes Federation (2021), Indonesia menempati peringkat dua sebagai negara dengan penderita hiperglikemia terbanyak yaitu 19,5 juta penderita. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat hingga 28,6 juta penderita pada 2045.
Sementara luka kronis akibat hiperglikemia berpotensi mengalami infeksi yang dapat berakibat pada amputasi, bahkan kematian. Luka kronis berpotensi terinfeksi bakteri, salah satunya didominasi oleh Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang telah dinyatakan resisten terhadap antibiotik.
Baca Juga: Sabet 23 Medali, UGM Juara Umum 3 di Brawijaya University Karate Championship 2023
Dwi Ardyan menjelaskan luka yang dialami penderita diabetes akan semakin parah dan sembuh lebih lama. Luka kronis hiperglikemia terinfeksi MRSA dapat diobati dengan pembedahan dan pemberian antibiotik.
Namun, pembedahan cenderung menjadi solusi terakhir karena membutuhkan banyak biaya. Sedangkan pemberian antibiotik sudah tidak lagi efektif karena sifat resistensi antibiotik yang dimiliki MRSA.
"Dampak dari resistensi antibiotik adalah meningkatnya biaya perawatan karena antibiotik lini pertama sudah tidak mampu lagi mengatasi bakteri yang menginfeksi. Selain itu, durasi penyakit tentunya juga akan bertambah panjang, bahkan dapat menyebabkan kematian," paparnya.
Baca Juga: Lanjutan Trilogi Dilan Siap Tayang 2024
Pemanfaatan kurkuminoid sebagai salah satu formula untuk terapi luka hiperglikemia karena didalamnya mengandung senyawa antibakteri sehingga dapat menggantikan fungsi antibiotik. Sementara itu, pemilihan CMPs dilakukan karena dapat mempercepat penyembuhan luka.
"Sumber kolagen yang kami gunakan berasal dari ikan dan kehalalannya telah tersertifikasi sehingga dapat digunakan untuk kaum Muslim," jelasnya.
Artikel Terkait
Mahasiswa UGM Kaji Pengaruh Weton Terhadap Capaian Akademik Mahasiswa
Aulia Rachmi Kurnia, Mahasiswa Disabilitas Netra UGM Juara 1 Kejurda Catur Paralimpik II NPC DIY 2023
Tim Yacaranda UGM Juara Umum Kompetisi Mobil Listrik Indonesia
Rekayasa Bakteri EcN, Tim Mahasiswa UGM Raih Emas dan Special Award iGEM Competition di Paris
Sabet 23 Medali, UGM Juara Umum 3 di Brawijaya University Karate Championship 2023