Ekonom FEB UGM Nilai Wacana Vasektomi Sebagai Syarat Bansos Kurang Tepat dan Diskriminatif

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Senin, 5 Mei 2025 | 11:19 WIB
Ekonom FEB UGM menilai wacana vasektomi sebagai syarat bansos kurang tepat dan cenderung diskriminatif. (Pixabay.com/chowbins dan Canva)
Ekonom FEB UGM menilai wacana vasektomi sebagai syarat bansos kurang tepat dan cenderung diskriminatif. (Pixabay.com/chowbins dan Canva)

 

TINEMU.COM - Rencana Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi, yang akan menjadikan vasektomi sebagai syarat untuk menerima bantuan sosial (bansos) menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan.

Ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D, menilai wacana menjadikan vasektomi sebagai persyaratan menerima bansos kurang tepat, meskipun memiliki niat baik.

Menurutnya, pendekatan tersebut justru berisiko menimbulkan diskriminasi dan ketidakadilan sosial. Sementara masih banyak alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemiskinan.

Baca Juga: Ailee Ascend Siap Panaskan Jakarta 5 Juli 2025!

“Anak lebih sedikit memang akan mengurangi kemiskinan karena pembagi resource rumah tangga berkurang. Namun, banyak alternatif lain,” jelasnya.

Wisnu menyampaikan bahwa kelompok keluarga miskin cenderung memiliki anggota rumah tangga lebih banyak dibanding kelas menengah atas.

Hanya saja menjadikan vasektomi sebagai syarat menerima bansos adalah kebijakan yang terlalu ekstrem, berisiko sosial, bahkan menimbulkan kesan pemaksaan terhadap kelompok rentan.

Baca Juga: Rony Parulian Akhirnya Rilis Album Debutnya

“Niatnya mau membantu, tapi malah jadi eksklusivitas dalam sistem bantuan sosial. Padahal seharusnya kebijakannya inklusif dan berkeadilan,” ucapnya

Tidak hanya itu, Wisnu mengatakan bahwa jika kebijakan ini diimplementasikan dikhawatirkan narasi yang akan berkembang akan menjadi diskriminatif dan koersif. Kondisi tersebut pada akhirnya akan menurunkan kepercayaan publik terhadap program bansos dan program pemerintah lainnya kedepan.

Hidupkan Program KB

Wisnu menyarankan agar pemerintah menghidupkan kembali program Keluarga Berencana (KB) yang bersifat sukarela seperti di era Orde Baru. Ia menyebut pendekatan tersebut terbukti berhasil menurunkan angka kelahiran tanpa paksaan.

Baca Juga: Bella Astillah dan Ade Govinda Hadirkan Kolaborasi Istimewa

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Humas FEB UGM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X