temu-pande

Dari Medan ke Jogja: Perjuangan Soraya Raih Mimpi di UGM

Senin, 7 Juli 2025 | 07:52 WIB
Soraya Esther Br. Sitanggang (18 tahun) bersama ibunya di depan warung kelontong. (Humas FEB UGM)

TINEMU.COM - Selasa, 18 Maret 2025 menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh Soraya Esther Br. Sitanggang (18 tahun). Sore itu, di tengah kecemasan dan harap, ia membuka pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Tiba-tiba, dunia seolah berhenti sejenak ketika ia melihat namanya lolos sebagai mahasiswa baru di Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Ia berhasil menembus kampus impiannya tanpa tes.

Bagi Soraya, ini bukan sekadar kabar penerimaan, tetapi menjadi pintu menuju mimpi besar yang selama ini ia jaga erat. Ia pun bergegas menyampaikan kabar bahagia itu kepada sang ibu yang tengah membereskan dagangan di kedai kecil milik keluarganya.

Baca Juga: Waspadai Sniffing! Modus Baru Pembobolan Rekening Lewat WhatsApp

Sang ibu, Rosliana M. Sihotang tak kuasa menahan air mata. Keberhasilan yang diraih putrinya itu bukan sekadar kelulusan, tapi anugerah yang terasa seperti mukjizat. Di sisi lain, Ros dibayangi kecemasan bagaimana dengan biaya kuliah nantinya.

Namun, tuhan seakan tak berhenti menebar keajaiban. Beberapa minggu kemudian, Soraya mendapat beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pendidikan Unggul bersubsidi 100 persen. Artinya, Soraya bisa menjalani kuliah di FEB UGM secara gratis hingga lulus nantinya.

“Saya bilang, ini bukan garis akhir. Ini adalah titik mula menuju perjalanan baru yang harus dilalui,” ucap Ros di rumahnya di Sidorejo, Medan Tembung, Kota Medan.

Baca Juga: Joseph Kosinski Beri Sedikit Bocoran Tentang 'Top Gun 3'

Ros mengungkapkan awalnya ia sempat meminta putrinya untuk kuliah di Sumatera Utara. Namun melihat tekad kuat sang putri untuk mengejar mimpi kuliah di UGM, akhirnya ia pun mendukung dan hanya bisa mendoakan yang terbaik.

Bertumbuh di Tengah Keterbatasan

Soraya merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Ia tumbuh dan besar tanpa merasakan kehadiran sosok ayah. Sang ayah meninggal dunia karena sakit saat ia berusia dua tahun. Sang ibu pun menjadi tulang punggung keluarga dengan mengandalkan hasil berdagang dari warung kelontong yang dikelola di rumah.

Di tengah keterbatasan, Soraya tidak pernah berhenti berjuang untuk mewujudkan mimpinya. Soraya sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan sejak SD. Ia kerap menghabiskan waktu sebagai relawan untuk mengajar teman-teman dan adik kelas di sekolahnya.

Baca Juga: Raih Rekor MURI, Festival Budaya 'Jakarta dalam Warna' Berlangsung Meriah

"Saya suka sekali mengajar dan senang rasanya melihat teman-teman paham dengan pelajaran. Bermula dari situ, saya termotivasi untuk terus belajar dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya,” ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB