'GJLS Ibuku Ibu Ibu' : Berani Gokil Menembus Batas

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Minggu, 8 Juni 2025 | 13:29 WIB
Trio GJLS  (istimewa)
Trio GJLS (istimewa)

TINEMU.COM- Harus diakui, dunia sinema Indonesia patut berterimakasih sebesar-besarnya kepada para stand up komedian atau populer disebut komika. Baik dari hasil lomba yang pernah diadakan-ataupun belum lama dikenal sebagai konten kreator di media sosial. Tanpa mereka mungkin tema film Indonesia tidak berkembang-meskipun tak mudah dan butuh waktu-untuk mencapai kesuksesan salah satunya dengan keberhasilan film Agak Laen laku di bioskop. 

Ada kalanya menyoroti kembali latar belakang film ini yang memang dibentuk para komika hasil dari kontes juga podcast komedi hingga membentuk trio GJLS (baca: Gak Jelas). Berbekal potensi yang sudah ada, terutama di media sosial-mereka membuat film GJLS Ibuku Ibu Ibu dipimpin sutradara Monty Tiwa yang pernah mengarahkan komika juga dalam Mau jadi Apa (2017) dengan bintang Soleh Solihun. GJLS sendiri juga sebelumnya membuat film pendek Kuyub yang tayang di YouTube-menjadi modal bahwa komika selain punya tema aktual juga berani menawarkan tak sekedar kelucuan semata. 

Sempat ganti kostum nyeleneh seusai gala premiere
Sempat ganti kostum nyeleneh seusai gala premiere (foto DoRo Conspiracy)

Film ini dibuka dengan permasalahan ayah dari trio GJLS mau menikah lagi dengan anak kosnya yang usianya jauh lebih muda dari trio GJLS. GJLS yang terdiri dari bermacam profesi : MC acara dangdut,pemain judi online dan pawang hujan anggota paguyuban dukun Indonesia-tentu saja menolak keputusan ayahnya yang selain beruntung mendapatkan istri baru tapi juga mau mengelola usaha kos mereka yang berantakan karena kepergian ibu mereka.   

Baca Juga: 'Mickey 17', Pesan Moral Di Antara Olok-Olok Kepada Teknologi   

Cerita kemudian berkembang dengan penyeldikan trio GJLS kepada calon ibu mereka yang mereka sangka hanya tertarik dengan rumah kos peninggalan ayah mereka dan sering ditaksir orang untuk dibeli karena letaknya stragetis dengan tanah luas. Berbagai kelucuan terjadi saat penyelidikan, bahkan mereka sempat mengaku anggota intel segala agar bisa masuk klab malam guna mengintai calon ibu mereka bekerja sebagai SPG rokok. Di saat lain-teman sekolah sang ayah - berminat dengan rumah kos tersebut dan ingin membelinya. Teman sekolah ayah yang diperankan Luna Maya ternyata bagian dari "mafia tanah" dan niatnya setelah membayar DP-mengambil sertifikat hak milik sehingga mulai mengusir penghuni kos. Trio GJLS berjuang keras mendapatkan kembali hak milik rumah mereka.

Film ini menjadi istimewa dengan mengangkat tema aktual : beredarnya mafia tanah dan calon istri muda yang cuma mengincar kekayaan duda. Tema tersebut dipadukan dengan lelucon yang terkadang sarkas-bahkan juga nyeleneh-karena sutradara berani menampilkan adegan bloopers- adegan yang seharusnya dibuang dalam film-guna memancing kelucuan. Adegan aktor lain yang bahkan sedang saat audisi casting film ini juga ditampilkan.

"Selama 25 tahun saya bikin film, semua teori seperti dibongkar. Bloopers dimasukan, bahkan terjemahan dialog dari komputer pemain yang tidak jelas karena berbibir sumbing- ditampilkan. Tapi saya melakukannya karena mereka adalah GJLS, ini film mereka yang harus menampilkan semurninya GJLS, belum ulah mereka sendiri yang sering improvisasi naskah," ungkap Monty Tiwa, sutradara saat jumpa pers.

Baca Juga: 'The Age of Adaline', Nggak Selamanya Awet Muda Menyenangkan

Bucek Depp yang berperan sebagai ayah mereka dan lebih sering tampil macho, kali ini juga berani tampil agak lain. "Setelah syuting ini saya sempat menolak dulu tawaran main film lagi, masih terbayang dan terbawa saya gobloknya," cetus Bucek yang juga mengaku selama bertahun-tahun main film baru kali ini dapat peran di film yang juga 'ajaib' dengan para kelakuan pemeran aslinya. Saat jumpa persnya mereka juga berani nyeleneh dengan menghadiahi beras 5 kg,minyak goreng 5 liter dan air kemasan galon kepada para pemenang door prize. Kejadian seperti ini mengingatkan kita kepada tingkah laku komedian legendaris Amerika 1970-1980-an, Andy Kaufman, yaitu suka mengerjai penonton di dunia nyata.

Sempat terjadi kekhawatiran di produsernya sendiri film ini tak akan lulus sensor LSF akibat banyak umpatan seperti "njiing,goblok lu" bertabur di sana-sini-dan sengaja dibiarkan karena itu ciri khas GJLS -bahkan di video podcastnya. Untung, selamat tapi dengan konsekuensi film ini menjadi komedi dewasa 17 tahun. Jika cermat, film kita dengan dialog umpatan kasar sudah banyak sejak era 1970-an lewat film-film silat Si Buta dari Gua Hantu, Jaka Sembung bahkan Benyamin S. Terbukti saat film tersebut tayang ulang di televisi swasta, umpatannya disensor pihak TV karena khawatir ditegur KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Berlaku juga pada adegan merokok atau bagian tubuh tertentu misalnya payudara dan paha wanita diburamkan. 

GJLS Ibuku Ibu Ibu berhasil menawarkan gaya baru yang berani memunculkan keterbalikan bahkan kesalahan, guna mengejar estetika. Semoga berhasil, kendati masih agak mengkhawatirkan apakah nantinya akan mengundang kecaman dari penonton yang tak mengenal GJLS.**

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X