Auman Sang Singa Tua

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Jumat, 22 September 2023 | 18:23 WIB
Robert Plant saat menyanyi di event Austin City Limits (Tangkap Layar YouTube)
Robert Plant saat menyanyi di event Austin City Limits (Tangkap Layar YouTube)

“Buatlah karya baru! Kamu pemusik hebat!” pesannya kepada Jimmy Page, yang sepertinya di masa senja tengah mengidap “post power syndrome” dengan hanya mampu merilis ulang versi baru album-album lama Zeppelin!

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan sikap seperti itu apakah album Plant masih layak dikoleksi, mengingat ia tentu sudah tak kuat lagi berjingkrak-jingkrak seperti dulu? Tentu ini yang jadi pertanyaan banyak orang,siapapun –pencinta musik-baik yang bukan  fans Zeppelin sekalipun.

Baca Juga: Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (6)

Album ini dibuka dengan  trek “Little Maggie” yang suram, misterius, bahkan terasa “ambience” dengan mengetengahkan bebunyian synthesizers. Trek kedua “Rainbow” agak mirip dengan nuansa lagunya di album “No Quarter...Unledded”.

Uniknya di lagu “Rainbow” Plant menyisipkan lengkingan khasnya yang terasa tak dipaksakan seperti ia masih muda namun tampak elegan.  Lagu-lagu berikutnya tetap mencengangkan seperti “Pocketfull of Golden” dan “Embrace Another Fall” yang juga menampilkan suara vokalis Julie Murphy-penyanyi folk asal Wales yang terdengar mirip penyanyi kasidah!

Untuk pengerjaan album ini Plant menggaet sejumlah musisi folk dan blues lokal Inggris dan Wales. Dan memang,setelah mendengarkan album ini, terasa amat kaya sehingga merupakan hibdrida rock, folk, dan ambience yang oleh media massa macam “Mojo” dan “The Guardian” disederhanakan menjadi “psychedelic rock”.

Namun mohon “psychedelic rock” di sini jangan buru-buru diasosisiasikan macam Pink Floyd dan The Doors-karena Anda bisa kecewa kalau mengharapkan seperti itu.

Baca Juga: Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (5)

Album ini memang tak terlalu meledak dan sepertinya mengecewakan media musik besar ala “Rolling Stone” yang kemungkinan masih terbayang-bayang pamor rockstar Robert Plant semasa di Zeppelin (RS hanya memberi nilai 3 bintang, tapi “The Guardian” memberi 4 bintang). Walau demikian, album ini punya nilai lebih yang mengukuhkan dirinya sebagai seniman musik eksperimental.

 

Memang album ini punya risiko besar terutama ditinggal fansnya yang masih memimpikan dirinya menjerit ala Zeppelin, namun malah membuka peluang baru bagi penggemar musik progresif-pun pendengar musik baru yang tak sempat mengenal masa jayanya sebagai ikon rockstar 1970-an lantaran buat Plant, masa jeritannya ala lagu hit fenomenalnya “Black Dog” dan “Immigrant Song” sudah berakhir!

Singkatnya, di sini ia mampu menempatkan diri sebagai sosok seniman yang mampu membuat karya baru yang mampu terlepas dari bayang masa lalu meski album ini baru punya arti bagi penikmat musik yang menyukai eksperimen.

Baca Juga: Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (4)

Album ini tetap menempatkan dirinya sebagai musisi kelas wahid dibandingkan rekan seprofesinya yang “ngotot” sebagai jawara classic rock. Ya, Plant cukup tahu diri dengan kapasitasnya di usia senja sehingga ia masih mampu mengaum dengan caranya sendiri.*

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X