TINEMU.COM - Album Metallica “Black Album” (1991) selain sukses komersil dan menghasilkan Grammy Award, sekaligus menuai kontroversi ketika ditangani Bob Rock.
Apa pasal? Fans Metallica terbelah menjadi tiga kubu. Kubu pertama adalah fans Metallica yang menyukai idealisme thrash metal mereka yang tidak kompromi pasar, kubu kedua fans yang baru menyukai Metallica yang ternyata bisa digiring membuat lagu slow rock dan hard rock-masuk tangga lagu TOP 40-dan radio friendly, kubu ketiga adalah fans yang berharap format hard rock “Black Album” adalah album terakhir Metallica dengan konsep begini tapi selanjutnya berharap mereka kembali ke area thrash metal!
Baca Juga: Auman Sang Singa Tua
Nyaris mirip dengan nasib RHCP, sesudah “Black Album” Metallica seperti hanya menjalankan kewajiban konser dan tur di banyak tempat (salah satunya ke Indonesia pada 1992), dan nyaris sulit menemukan waktu membuat lagu baru.
Polygram, label mereka untuk mengisi kekosongan 1991-1994 (sekaligus mengeksploitasi) merilis banyak mini album demo tapes dan rekaman konser (baik video dan audio yang dirilis dengan beragam kaver berbeda di berbagai negara) dari band yang pernah diejek sebagai ‘band sampah’ oleh gitaris Yngwie Malmsteen!
Ketika merilis album “Load” (1994)-dilanjutkan dengan Reload dan St. Anger banyak yang kecewa dan menuding Metallica sudah bergeser menjadi sudah tidak idealis lagi lantaran di bawah penanganan produser Bob Rock, menganggap masa thrash metal tak akan seawet band rock legendaris macam Deep Purple, Aerosmith, Black Sabbath, atau Led Zeppelin.
Baca Juga: Film Taking Woodstock (2009) : Woodstock 1969 Dari Dekat Sekali
Rupanya Bob Rock keliru, pasca “Black Album” penjualan album Metallica cenderung merosot, sedangkan album Metallica lama masih terjual (“...and Justice for all”, “Master of Puppets”, “Ride The Lightning”),pun album debut “Kill em’all” yang masih ditangani produser independen, Jon dan Marsha Zazula - yang hingga kini masih getol merilis album beraliran metal.
Cukup lama Metallica mengalami stagnan dan butuh waktu lama menghasilkan album thrash metal lagi, terutama semenjak pemain bas Jason Newsted mengundurkan diri. Masa sulit Metallica ini sempat diabadikan menjadi film dokumenter “Some Kind of Monster” (2004).**
Artikel Terkait
Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (1)
Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (2)
Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (3)
Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (4)
Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (5)
Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (6)
Supergrup di Ambang Sukses dan Konflik, Bak Api dalam Sekam (7)