Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (212)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Selasa, 10 Oktober 2023 | 09:00 WIB
COVER CERBUNG  (Playground AI x Stable XL)
COVER CERBUNG (Playground AI x Stable XL)

TINEMU.COM - Kemudian orang berkedok itu berkata pula sambil mengela nafas, “Tapi banyak manusia di dunia ini lebih mengutamakan muka yang bagus, rasanya tidaklah banyak orang yang tidak takut kepada mukaku yang jelek ini seperti kalian. Maka biarlah aku tetap menjadi orang berkedok saja!”

Habis berkata kembali ia pasang kain hitam di mukanya, di tengah suara tawanya yang panjang nyaring dengan cepat ia melangkah pergi.

Sesudah orang itu menghilang, dengan tertawa Minghui berkata, “Kukira Tin-kok adalah lelaki paling jelek mukanya di dunia ini, siapa tahu masih ada orang yang lebih jelek daripada dia. Cuma orang ini pun rada istimewa. Aneh juga, kepandaiannya begitu tinggi, entah cara bagaimana mukanya dirusak orang?”

“Ini namanya tinggi gunung masih ada gunung yang lebih tinggi,” ujar Nyo Wan.

“Tapi orang yang merusak mukanya itu pasti juga orang jahat,” kata Minghui.

“Orang jahat berkepandaian setinggi itu, sungguh bukan hal yang baik.”

“Ya, ucapan Tuan Putri memang tidak salah,’ kata Nyo Wan.

Tiba-tiba ia teringat kepada Li Su-lam. Sekarang ia sudah tahu Yang Kian-pek adalah putra Yang Thian-lui dan juga orang yang hendak menyergap Li Su-lam pada malam itu.

Mau tak mau terpikir pula oleh Nyo Wan, "Sungguh tidak sedikit orang jahat yang hendak mencelakai engkoh Lam dan semuanya berkepandaian tinggi pula. Kepergian ke Hui-liong-san mungkin juga sangat berbahaya walaupun dia ditemani Beng-tayhiap.

Berpikir sampai di sini, sungguh kalau bisa Nyo Wan ingin terbang ke Hui-liong-san dalam waktu singkat, biar pun tak dapat membantu banyak pada Li Su-lam, sedikitnya akan dapat membagi kesukarannya.

Begitulah segera ia berkata kepada Minghui bertiga, “Hari sudah terang tanah, aku harus berangkat sekarang, kalian boleh pergi ke Long-sia-san, tunggulah aku di sana!”

“Semoga kau lekas berjumpa dengan Li-kongcu dan sampaikan salamku kepadanya,” kata Minghui. Lalu keduanya berpisahan dengan rasa berat.

Nyo Wan berangkat sendirian menuju utara, makin jauh makin sedikit orang yan berlalu lalang. Ia menjadi teringat kepada cerita orang berkedok itu bahwa semalam Beng Bing-sia kepergok keparat Yang kian-pek, sedangkan Ci In-hong telah membantu Bing-sia mengalahan Yang Kian-pek. Bila benar hal ini, maka sungguh di luar dugaan. Entah mereka melanjutkan perjalanan bersama atau tidak? Ci In-hong itu kawan atau lawan masih belum jelas. Cuma, diharap saja sebagaimana dikatakan orang berkedok itu, semoga Ci In-hong adalah orang baik.

Begitulah dalam lubuk hati Nyo Wan sedikit banyak masih menaruh cemburu dan sirik kepada Bing-sia, sebab itu dia berharap Ci In-hong adalah orang baik, semoga mereka menempuh perjalanan bersama, lalu bibit asmara keduanya bersemi. Hari itu hawa sangat dingin, habis saja turun salju, di depan hanya nampak pemandangan salju yang putih buram, di atas tanah salju tiada satupun bekas tapak kaki binatang, jangankan tapak kaki manusia.

Dalam hati Nyo Wan membatin pula, “Mungkin mereka bukan menuju ke Hui-liong-san. Tapi kalau benar mereka dalam perjalanan bersama, aku menjadi tidak perlu rikuh lagi bertemu dengan Bing-sia.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X