“Ini adalah wujud kerja bersama Kemendikbudristek dan Kemendes PDTT. Untuk ke depannya, Desa Denai Lama dapat menjadi contoh bagi desa-desa yang lain. Pemajuan kebudayaan bisa mewujud sebagai pembangunan yang menyejahterakan warganya, dapat berupa bercocok tanam, distribusi pangan, atau pemulihan bibit,” kata Irini.
Baca Juga: Kaum Muda dan Masyarakat Pedesaan Berisiko Tinggi Terdampak Manipulasi Media Digital
Hal tersebut sejalan dengan tema yang diangkat dalam Festival Selayar Denai 2023, yaitu ketahanan pangan. Desa Denai Lama menyadari bahwa pengetahuan pangan lokal mulai menipis, dan bahkan hilang.
Masyarakat harus bersusah payah mendapatkan pengetahuan tersebut dari para tetua yang semakin sedikit jumlahnya.
Festival Selayar Denai 2023 membawa pesan sinergi bersama antara Kemdikbudristek dan Kemendes PDTT. Sinergi ini berupaya untuk menumbuhkembangkan, mengaktualisasikan potensi, dan mengonservasi kekayaan budaya yang dimiliki desa sebagai modal sosial ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Mokondoo, Adityo Prakoso dan Diergo Bikin Pecah Boleh Gig
Hal tersebut dilakukan dengan optimalisasi keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kolektif yang partisipatif, akuntabel, dan mengutamakan kepentingan bersama dalam tatanan sosial yang terstruktur dan kontekstual.
Kepala Desa Denai Lama, Parnu, menyampaikan upaya desa dalam membangun ekonomi warganya melalui kearifan lokal dan kultur yang ada.
“Sedikit demi sedikit, ekonomi warga tumbuh. Kini, setiap akhir pekan, desa kami ramai seperti Kota Medan. Banyak tetamu menikmati desa dengan sajian makanan yang kami hadirkan di Pasar Budaya. Transaksi bisa mencapai 200 juta dalam dua hari itu,” ungkapnya.***
Artikel Terkait
Masjid Sultan Suriansyah Ikon Desa Wisata Kuin Utara
Kentalnya Budaya di Desa Wisata Tebara Bikin Semangat Membara untuk Berwisata
IKLIM Fest Ajak Masyarakat Sadar Iklim Lewat Festival Musik
Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat Kembali Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu
Tridaya Festival Satukan 20 Desa Kawasan Borobudur