Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (270)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Kamis, 7 Desember 2023 | 09:00 WIB
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM - Setiba di atas gunung, Akai dan kalusi kegirangan melihat Tuan Putri mereka telah kembali dengan selamat.

Begitu pula melihat Li Su-lam pulang bersama Nyo Wan, maka suasana gembira di atas Long-sia-san sukarlah dilukiskan.

Hanya Minghui saja seperti ada sesuatu ganjelan hati, di tengah suasana gembira itu cuma dia saja yang murung.

Pada esok harinya mendadak Minghui sudah memotong rambutnya dan menemui To-hujin, dia mohon To-hujin suka perkenalkan Liau-yan Suthay dan menerimanya sebagai murid.

Tentu saja To-hujin terkejut dan heran, Nyo Wan, To Hng dan lain-lain juga tidak sangka-sangka akan perbuatan Minghui itu.

Mereka coba membujuknya, namun tekad Minghui sudah bulat untuk menjadi biarawati saja, terpaksa To-hujin memenuhi keinginannya itu dan minta Liau-yan suka menerimanya sebagai murid.

Hubungan Kalusi dengan Minghui mirip saudara sekandung, meski dia tidak ikut cukur rambut, tapi ia pun ikut pindah ke Yok-ong-bio untuk menemani Minghui di sana.

Akai tetap tinggal di Long-sia¬san untuk menunggu kesempatan pulang ke tanah airnya.

Setelah kembali ke Long-sia-san, dengan sendirinya Beng Siau-kang menceritakan pertarungannya melawan Yang Thian-lui di Pek-keh-ceng itu.

Karena menyangkut tugas perguruan mereka, Kok Ham-hi dan Ci in-hong sangat menaruh perhatian terhadap cerita Beng Siau-kang itu.

“In-hong, bukankah kau bermaksud mengajak Kok-suhengmu pergi menemui gurumu?” tanya Beng Siau-kang kemudian.

“Ya, untuk itu kami ingin minta nasihat Bengcu, apakah kiranya kami boleh meninggalkan pangkalan kita ini untuk sementara?” kata Ci In-hong.

“Sekarang kita sudah mengetahui berita yang jelas dan dapat dipercaya bahwa pihak Mongol sedang sibuk menenteramkan keadaan dalam negeri sendiri, dalam tahun ini rasanya mereka takkan mengganggu negeri kita, maka bolehlah kalian berangkat saja,” kata Li Su-lam.

“Jika demikian biarlah besok juga kami lantas berangkat,” ujar In-hong.

“Mengapa kalian tidak tinggal lagi sehari saja,” kata Beng Siau-kang dengan tertawa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X