TINEMU.COM - Perjalanan kedua saudara perguruan itu tidak terasakan hampa, sepanjang jalan mereka saling menceritakan pengalaman masing, yang satu berasal dari daerah Kanglam dan yang lain dari daerah utara, maka bahan cerita mereka cukup banyak.
Suatu hari sampailah mereka di Hu-li-cip, suatu kota yang sedang besarnya, tapi setiba di dalam kota segera mereka melihat banyak laki-laki kekar bersenjata, sedang membeli barang di toko, sekali pandang saja segera dapat diketahui laki-laki itu pasti orang-orang kangouw.
Di tengah jalan sebenarnya Ci In-hong berdua sudah memergoki beberapa orang kangouw yang sejenis itu, cuma tidak banyak sebagaimana mereka lihat di Hu-li-cip ini.
Bahwasanya sedemikian banyak orang-orang kangouw berkumpul di suatu kota kecil, segera Ci In-hong berdua merasa di baliknya pasti ada sesuatu persoalan.
Sementara itu hari sudah hampir gelap, Kok ham-hi berkata, “Kita tiada punya sangkut paut dengan mereka, tidak perlu pusingkan urusan orang.”
Mereka lantas mencari hotel untuk bermalam. Di waktu mencari hotel, Ci In-hong diam-diam memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang keluar dari toko itu, setiap orang tentu membawa sebuah kotak sumbangan.
Pada hotel yang mereka pondoki juga tinggal beberapa tamu orang kangouw yang sejenis itu.
Ketika melihat Ci In-hong berdua tidak membawa bungkusan sumbangan dan sebagainya, orang-orang kangouw itu tampak rada heran, tapi juga tidak menegur sapa.
Habis makan malam, Ci In-hong jalan-jalan di ruangan depan, dilihatnya ada dua tamu sedang minta tolong kasir hotel agar menuliskan kartu nama mereka.
“Ciok-toako, sumbangan apa yang kau siapkan?” demikian terdengar seorang bertanya kepada kawannya.
“Ah, barang yang tiada artinya, hanya dua biji Ya-beng-cu (mutiara) saja,” jawab yang ditanya.
“Dan kau sendiri menyumbang apa?”
“O, hanya seekor Giok-say-cu (singa2an dari jade), sudah tentu tidak sebagus barang sumbanganmu, “ kata yang pertama tadi.
“Su-loenghiong tentu tidak memandang besar kecilnya sumbangan kita, yang perlu sebagai tanda hormat kita kepada beliau saja dan tentu beliau akan merasa senang,” kata kawannya.
“Eh, saudara kasir, tolong tuliskan kata-kata yang indah.”
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (264)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (265)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (266)