Kun-Yong Lee, Pelukis Bodyscapes: Garis yang Menemukan, Bukan Mendefinisikan

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Senin, 9 Juni 2025 | 10:28 WIB
Lee berpose di depan Bodyscape 76-2+3-2022 yang ditampilkan di Samsung MICRO LED 114 inci di Art Basel Hong Kong 2025. (Samsung Newsroom)
Lee berpose di depan Bodyscape 76-2+3-2022 yang ditampilkan di Samsung MICRO LED 114 inci di Art Basel Hong Kong 2025. (Samsung Newsroom)

TINEMU.COM - Bagi seniman Kun-Yong Lee, seni bukan tentang jawaban, melainkan pencarian. Lewat tubuh, gerakan, dan garis alami, ia menjelajahi pertanyaan abadi. Kun-Yong Lee pun dikenal luas melalui seri “Bodyscape”.

Sebanyak 15 karya pilihan Kun-Yong Lee resmi tersedia di Samsung Art Store mulai 2 Juni 2025. Layanan ini dapat diakses melalui Samsung Art TV, termasuk The Frame dan QLED, yang kini tersedia di 117 negara dengan lebih dari 3.500 karya seni 4K.

Apakah seni seharusnya membuat kita berpikir, atau justru mengajak kita merasa? Apakah keindahan itu diciptakan, atau ditemukan? Tak ada jawaban pasti. Bagi Kun-Yong Lee, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi inti dari perjalanan berkaryanya selama puluhan tahun, dijawab melalui tubuh, gerakan, dan garis-garis yang tercipta secara alami.

Baca Juga: Kolaborasi Ade Hubart dan Ian Antono Tampilkan Single 'Pujangga Cinta'

Dalam perbincangan dengan Samsung Newsroom, Lee menjelaskan mengenai filosofi seninya dan apa yang menginspirasi kolaborasi bersama Samsung.

Hakikat Sensory dalam Seni

Lee mengungkapkan bahwa seri “Bodyscape” terinspirasi dari momen ketika putrinya yang masih kecil baru belajar berjalan dan terjatuh saat memegang krayon. Tanpa sengaja, putrinya menggambar garis di dinding.

Momen itu menyadarkan Lee bahwa sebuah karya seni bisa diciptakan tanpa maksud untuk mengekspresikan konsep tertentu — hanya dengan membiarkan tubuh bergerak secara alami, bahkan tanpa melihat ke arah kanvas.

Baca Juga: 'Havoc'- Sekedar Kado untuk Fans Gareth Evans?

Filsuf Prancis Maurice Merleau-Ponty berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sensorik, bukan dari penalaran abstrak. Filsuf linguistik asal Austria, Ludwig Wittgenstein juga pernah berkata, “Ketika seseorang tidak dapat berbicara, maka dia harus diam,” — sebuah kritik terhadap keterbatasan filsafat yang hanya mengandalkan bahasa konseptual.

“Saya setuju dengan gagasan bahwa makna muncul buka dari bahasa atau pikiran rasional, tetapi dari gerak dan sensasi tubuh. Ekspresi artistik, dengan demikian, bukan sekadar hasil dari niat sadar, melainkan cara tubuh membangun dan merespons dunia secara langsung,” ujar Lee.

Di sinilah karya Lee berbeda dari teknik melukis tradisional. Lee mencelupkan tubuh atau kuas ke dalam cat, lalu meregangkan tangan sejauh mungkin untuk menambahkan garis demi garis. Terkadang, Lee sengaja membelakangi kanvas.

Baca Juga: 'Terminator Zero' - Terminator Rasa Anime

“Jika lukisan tradisional mencerminkan apa yang dibayangkan secara sadar oleh sang seniman, maka karya saya terbentuk dari garis-garis alami yang muncul lewat gerakan berulang — garis-garis yang ditentukan oleh struktur dan keterbatasan gerak tubuh saya,” tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Samsung Newsroom

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X