Kun-Yong Lee, Pelukis Bodyscapes: Garis yang Menemukan, Bukan Mendefinisikan

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Senin, 9 Juni 2025 | 10:28 WIB
Lee berpose di depan Bodyscape 76-2+3-2022 yang ditampilkan di Samsung MICRO LED 114 inci di Art Basel Hong Kong 2025. (Samsung Newsroom)
Lee berpose di depan Bodyscape 76-2+3-2022 yang ditampilkan di Samsung MICRO LED 114 inci di Art Basel Hong Kong 2025. (Samsung Newsroom)

Menurut Lee, seni seharusnya tidak dimiliki secara eksklusif oleh para seniman — siapa pun bisa menikmatinya, menirunya, dan mengalaminya. “Interaksi dengan penonton adalah hal yang esensial, karena pertunjukan tidak bisa ada tanpa penonton,” imbuhnya.

Pada 2022, Lee bereksperimen dengan interaksi digital melalui proyek berjudul “Digital Bodyscape 76-3.” Pengunjung dapat memilih warna dan gaya sesuai yang mereka suka, lalu avatar Lee akan menciptakan versi digital dari “Bodyscape 76-3.”

Baca Juga: Bukit-bukit yang Dihisap Manusia

Dalam Gwangju Biennale ke-14 pada tahun 2023, Lee mengajak pengunjung untuk merasakan “Bodyscape 76-3” dengan menggambar garis menggunakan kedua tangan mereka sendiri di ruang pameran. Mulai dari anak kecil hingga kakek-nenek, siapa pun yang memegang krayon bisa menciptakan karya seni.

Ada kepuasan mendalam ketika seseorang melihat karya yang mereka buat sendiri. Lee ingin sekali memiliki lebih banyak kesempatan seperti ini di masa depan — di mana teknologi tidak hanya memperdalam komunikasi antara seniman dan penonton, tetapi juga mengajak para pencinta seni untuk ikut ambil bagian dalam prosesnya.

Di dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan saat ini, menurut Lee, seni memberikan kita kesempatan untuk menghargai hal-hal yang sering kita anggap remeh, menemukan makna dalam prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya, serta melambat dan merenung.

Baca Juga: Honda Gold Wing Edisi Spesial 50 Tahun Hadir di Indonesia. Ini Keunggulannya!

“Seni mendorong kita untuk memandang dunia dengan rasa ingin tahu yang lebih besar — yang pada akhirnya membantu kita menjalani hidup yang lebih bermakna dan memuaskan,” ujarnya.

Samsung Art Store

Kemudahan menikmati karya seni melalui Samsung Art TV merupakan kesempatan luar biasa bagi Lee untuk membangun koneksi. Duduk dengan nyaman di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi dan secara tenang menikmati karya seorang seniman.

“Ketika saya melihat karya saya ditampilkan di The Frame pada Art Basel Hong Kong, saya benar-benar terkesan. Dalam beberapa hal, emosi dan energi karya tersebut terasa lebih hidup dibandingkan saat melihatnya secara langsung. Itulah inovasi dari teknologi mutakhir,” ungkapnya.

Baca Juga: 'Mickey 17', Pesan Moral Di Antara Olok-Olok Kepada Teknologi

Lee percaya Samsung Art TV dapat mengatasi keterbatasan karya seni yang hanya bersifat visual. Karya seni pertunjukan bisa dinikmati dengan suara dan video, sementara karya konseptual dapat dipadukan dengan komentar seniman untuk mendukung pemahaman yang lebih mendalam.

Lee berharap semakin banyak orang dapat mengakses dan menikmati seni melalui Samsung Art Store — sebuah undangan untuk melihat dunia dari perspektif seorang seniman.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Samsung Newsroom

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X