Dalam membuat karya, Lee seringkali melibatkan interaksi dengan penonton. Menurut Lee, interaksi dengan penonton adalah hal yang penting, karena seni pertunjukan adalah medium yang tidak bisa ada tanpa kehadiran penonton secara langsung.
Ketika penonton menyaksikan aksi sang seniman, mereka mulai bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan sang seniman atau apa yang akan terjadi selanjutnya. Setiap kata yang diucapkan seniman dan setiap reaksi penonton menjadi bagian yang tak terpisahkan dari karya itu sendiri.
Baca Juga: 'The Founder', Pelajaran Berharga dari Bisnis Franchise
“Seni mendorong kita untuk melihat dunia dengan rasa ingin tahu yang lebih besar, dan pada akhirnya membantu kita menjalani hidup yang lebih bermakna,” jelasnya.
Di antara seri “Bodyscape,” Lee paling menyukai “Bodyscape 76-1,” “Bodyscape 76-2,” dan “Bodyscape 76-3.” “Bodyscape 76-1” dan “Bodyscape 76-2” dibuat dengan metode yang benar-benar berbeda dari teknik melukis tradisional.
Untuk “Bodyscape 76-1,” Lee berdiri di belakang kanvas yang tingginya kira-kira setinggi tubuhnya dan melukis dari belakang dan atas , hanya tangannya yang menjulur ke depan untuk menggambar garis.
“Sementara ‘Bodyscape 76-2’, saya melukis dengan membelakangi kanvas. Dunia baru muncul dari konteks di mana saya tidak dapat melihat apa yang saya Lukis,” ungkapnya.
Baca Juga: Hadiri Pertunjukan Seni di CFD, Wagub Rano Dorong Jakarta Jadi Kota Bahagia
“Bodyscape 76-3” merepresentasikan dunia artistik yang sepenuhnya tercipta melalui gerakan lengan kiri dan kanan Lee. Seperti “Bodyscape 76-2,” Lee berdiri di depan kanvas namun tidak menghadapnya secara langsung.
Lee memposisikan tubuh menyamping dan merentangkan lengan kanan sejauh mungkin untuk melukis sebuah garis, lalu mengulang gerakan yang sama dengan lengan kiri.
“Saya tidak sengaja menggambar bentuk hati — saya hanya membiarkan garis-garis yang terbentuk dari gerakan tubuh muncul secara alami dan menerimanya sebagai bagian inti dari karya seni,” ujar Lee.
Baca Juga: 'GJLS Ibuku Ibu Ibu' : Berani Gokil Menembus Batas
Bagi Lee, tubuh merupakan aspek paling esensial dalam karyanya. Hal ini sejalan dengan gagasan Merleau-Ponty bahwa tubuh adalah subjek persepsi yang hidup. Karena rasa keberadaan tubuh (corporeality) ini lebih terasa dalam proses dibanding hasil akhirnya, Lee mendorong penonton yang baru pertama kali melihat untuk mengamati bagaimana karya ini dibuat.
Melibatkan Publik
Artikel Terkait
James Tissot, Pelukis Potret Ulung dari Prancis
Mengenal Eugène Delacroix, Pelukis Era Romantis yang Bertekun Menggarap Kisah Mitologis
Mengenal Edgar Degas, Pelukis Impresionisme dengan Keunikan Sudut Pandang
Ketika Mimpi Menjadi Inspirasi 7 Pelukis
Art Market Bakal Lelang Lukisan-Lukisan Epik Para Pelukis Nasional