TINEMU.COM - Di sudut Kendys Gallery, Wisma Geha, Jl. Timor No.25, Gondangdia, Menteng – Jakarta, dunia yang manis dan lembut itu menunggu. Warna-warna pastel, bentuk permen, es krim, hingga figur-figur mungil menyambut pengunjung dengan senyum hangat.
Namun, di balik wujud yang menggemaskan itu, Iurum—seniman asal Korea Selatan—menyimpan kisah yang jauh lebih dalam. Pameran tunggal bertajuk The Brighter, The Sweeter kerjasama Kendys Gallery & B-tree Gallery (Seoul & Busan) ini bukan sekadar suguhan visual, melainkan perjalanan menyentuh tentang luka, kenangan, dan penyembuhan.
Ini adalah kali pertama Iurum hadir di Indonesia, sekaligus pameran tunggal ke-10 sepanjang kariernya. Namanya telah dikenal lewat karya-karya resin berukuran kecil yang menyerupai camilan manis.Meski demikian ia mengingatkan kita untuk tidak tertipu oleh penampilannya. Di balik permen dan es krim pastel, ada percikan rasa pahit dari kenangan masa lalu yang coba diolahnya menjadi pengalaman yang lebih ringan—dan lebih manis.
Baca Juga: Garden of Dreams di Meiro: Taman Imaji yang Menyulam Mimpi dari 6 Negara
Konsep utama yang diusung Iurum adalah SWEETCH, gabungan kata sweet (manis) dan switch (berubah). Baginya, seni adalah cara untuk “mengalihkan” rasa sakit menjadi sesuatu yang bisa dibagikan tanpa beban, layaknya permen yang meleleh di lidah.
Ia ingin menghadirkan rasa nyaman dan hangat, seolah berkata pada pengunjung: luka kita tidak harus selamanya pahit. Seperti halnya yang dikatakan Denny Yustana founder Kendys gallery; “Pameran The Brighter, The Sweeter ini sangat istimewa bagi kami. Iurum berhasil menghadirkan karya yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menyentuh sisi emosional terdalam. Lewat figur-figur mungilnya, ia mengajak kita berdamai dengan luka dan menemukan kembali manisnya hidup, sekecil apa pun itu.”
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah Life in Ice Cream. Patung resin berbentuk es krim pastel ini berisi adegan-adegan kecil kehidupan sehari-hari—seperti keluarga yang tertawa di meja makan atau anak-anak bermain di halaman.
Baca Juga: Willy Dozan dari Kungfu Pernah jadi Petinju! Kok Bisa?
Setiap detail terasa seperti potongan memori, mengajak kita mengenang momen-momen sederhana yang sering terlewatkan. Es krim, simbol manis masa kecil, menjadi media untuk menyimpan kenangan baik yang lembut maupun getir.
Tak kalah istimewa, karya Live a Day menampilkan 365 patung mini yang masing-masing melambangkan satu hari dalam setahun. Figur-figur mungil ini dirancang dengan sabar dan penuh ketelitian, seolah menegaskan bahwa hari-hari kita, betapapun tampaknya biasa, sesungguhnya memiliki makna penting. Dengan jumlah terbatas, karya ini menjadi ajakan untuk lebih menghargai waktu dan hidup di saat ini.
Karakter MAKETO—beruang mungil dengan perban, obat-obatan, dan topeng pahlawan—menjadi simbol penyembuhan diri. Iurum menciptakan MAKETO sebagai sahabat imajiner yang bisa kita temui dalam perjalanan menuju ruang aman di dalam diri sendiri. Pesannya sederhana namun menyentuh: kita semua berhak atas ruang damai itu, sekecil apapun bentuknya.
Artikel Terkait
MOCA Singapura Gelar ‘A Path to Glory’: Legenda Sastra Silat dan Patung Kontemporer
NEO Gallery Gelar Pameran “ProGress”: Sebuah Perayaan Gerak, Gagasan dan Keberanian Artistik
Kefanaan, Ruang Batin yang Sunyi dari Widya Triana dalam Pameran ProGress di Neo Gallery
ProGress di Neo Gallery: Kritik Sosial dalam Kanvas Syakieb Sungkar