TINEMU.COM - Di sebuah ruang yang penuh cahaya lembut di Cemara 6 Galeri, tiga perupa perempuan menggelar karya yang lebih dari sekadar seni visual. Mereka menghadirkan fragmen-fragmen kehidupan nyata, menyulam cerita tubuh, ruang, dan perlawanan perempuan di berbagai sudut Indonesia.
Pameran Kukuh, Bertumbuh yang digelar 12 Juli-20 juli 2025 di Cemara 6 Galeri Toeti Heraty ini bukan hanya instalasi yang bisa dilihat mata, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak kita mendengar bisikan-bisikan tentang bagaimana perempuan menjadi penjaga kehidupan.
Kurator Ayu Maulani dalam catatannya menulis dengan jernih: perempuan memiliki pengalaman tubuhnya sendiri. Ini bukan sekadar metafora. Dalam kearifan lokal Pasang Ri Kajang di Sulawesi Selatan, perempuan adalah darah, daging, urat-urat, dan motor penggerak kehidupan. Pandangan ini menegaskan betapa tubuh perempuan menjadi ruang pengetahuan, yang penuh rasa dan pengalaman yang tak bisa dialami oleh tubuh laki-laki.
Baca Juga: 1984, Big Brother, Newspeak, dan Ancaman Totalitarianisme di Masa Kini
Pameran ini pun menjelma menjadi “laboratorium hidup” di mana para perupa tidak hanya menciptakan karya di studio, tetapi turun langsung ke masyarakat—mendengar, mengamati, bahkan ikut merasakan denyut kehidupan warga. Dari kampung pesisir hingga dapur-dapur sederhana di pedalaman Minangkabau, mereka menggali strategi bertahan hidup yang lahir dari pengalaman kolektif perempuan.
Alexandra Karyn melalui karyanya “Dadap Masih Melawan, siapa yang menjadi kawan?” membawa kita ke Kampung Dadap di Tangerang—daerah yang bertahun-tahun dihimpit penggusuran. Tumpukan kerang, obyek-obyek gusuran, dan aroma laut yang terperangkap dalam tabung kaca menjadi simbol ketahanan warga, khususnya perempuan, dalam menghadapi opresi berlapis. Di sini, seni bukan lagi hiasan dinding, melainkan alat untuk memetakan jarak antara seni, realitas, dan ketidakadilan.
Baca Juga: Seni Lawan Arus: Saat Sohieb Toyaroja Pilih Borobudur, Bukan Paris atau New York
KAE dengan instalasi interaktifnya “A’bulo Sipapa’” dari Kajang menghadirkan anyaman benang hitam yang jika disentuh gerakan kita memunculkan cahaya. Ini adalah metafora yang puitis: satu benang bisa rapuh, tapi saat teranyam bersama ia menjadi kokoh. Perempuan Kajang dalam karya ini digambarkan sebagai kekuatan dalam ketenangan—kekuatan yang justru lahir dari kebersamaan.
Sementara itu, Anisa Nabilla Khairo bersama warga Padang Gantiang menyelami ruang dapur sebagai pusat pengetahuan dan budaya. Dalam karya “Fine Art”, perupa memperlihatkan bagaimana dapur bukan hanya tempat memasak, tapi juga ruang di mana perempuan merawat pengetahuan, membangun relasi ekologis, dan mewariskan nilai melalui cerita tentang musim, anak-anak, dan leluhur.
Pameran ini dengan lembut tetapi tegas menunjukkan bahwa tubuh perempuan menyimpan memori-memori kolektif yang menjadi strategi bertahan hidup di tengah sistem yang kerap menindas. Mereka merawat, mengasuh, menganyam, dan membangun komunitas. Di dapur, di pasar, di kampung-kampung padat, tubuh perempuan bekerja dalam diam, tetapi menyimpan energi perlawanan yang kukuh dan terus bertumbuh.
Baca Juga: Borobudur: Kitab Batu di Jantung Jawa, Warisan Cahaya dari Para Leluhur
Artikel Terkait
ProGress di Neo Gallery: Kritik Sosial dalam Kanvas Syakieb Sungkar
Garden of Dreams di Meiro: Taman Imaji yang Menyulam Mimpi dari 6 Negara
Kendys & B-tree Gallery Gelar The Brighter, The Sweeter: Ketika Luka Menjelma Rasa Manis
Motif Amalan, Tema Artjog 2025 yang “Menyesatkan” Tapi “Edgy”