TINEMU.COM - Bangsa Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun karena keberadaan buah pala yang nilainya lebih mahal dari emas. Tanaman pala yang tumbuh di Banda Naira membuat banyak bangsa datang ke kepulauan di timur nusantara ini.
Untuk mengenalkan Banda Naira di tengah keindonesiaan, Sekar Ayu Asmara menulis novel berjudul “Akulah Banda Naira.” Novel ini mengisahkan cinta sejati dua pasang kekasih di lintasan waktu berbeda. Latar Banda Naira membuat novel ini juga sarat pengetahuan dan sejarah.
Berbagai hal menarik dalam novel “Akulah Banda Naira” terungkap pada sesi diskusi Sastra Reboan yang digelar di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Rabu, 12 Juli 2023. Diskusi ini menghadirkan Sekar Ayu Asmara, Kurnia Effendi, dan Kanti W. Janis, dengan moderator Dyah Kencono Puspito Dewi.
Baca Juga: Uji Coba Operasional Terbatas LRT Jabodebek Mulai Dilakukan
Sastrawan Kurnia Effendi mengaku terkesima saat membaca novel ini. Selain mengalir lincah, novel ini sangat gampang dipahami.
“Cara berkisah Sekar Ayu Asmara sangat efektif, tidak berbelit-belit, padat sekaligus berongga. Langgam puitik terbit dari peristiwa, bukan dari bahasa. Kalimat-kalimatnya pendek, enak sekali dan asyik,” tutur Keff, panggilan akrab Kurnia Effendi.
Sesuai tema Sastra Reboan bulan ini yaitu Menyingkap Banda dalam Dua Zaman, Keff menyampaikan, ada dua bentangan zaman yang berlangsung dan pada akhirnya berkelindan melalui novel Akulah Banda Naira.
Baca Juga: Jalani Aktivitas Seru Bersama OpenFit, True Wireless Earbuds Open-Ear Pertama dari SHOKZ
Dalam novel ini, konflik yang disampaikan antara dua bangsa yaitu Indonesia dengan Belanda, melaju dan tidak terburu-buru.
“Pengarang memadukan mitos dengan pengetahuan modern melalui ikatan buah pala, sejenis rempah yang membuat Indonesia dijajah secara ekonomi dan kemanusiaan,” imbuhnya.
Konflik tersebut dipadukan dengan gelora cinta yang melanda insan dua bangsa yang terjadi pada awal abad 20 dan abad 21. Jalinan cinta itu diikatkan dengan berbagai mitos yang ada di Banda Naira.
Baca Juga: Indonesia Terima 472 Koleksi Benda Bersejarah dari Pemerintah Belanda
Sekar Ayu Asmara telah lama menggeluti dunia film. Biola Tak Berdawai, Salah satu film karyanya meraih berbagai penghargaan. “Tak pelak jika novel ini menjadi filmis dengan plot maju mundur. Membaca novel ini seperti ketika menonton film, asyik sekali,” kata Keff.
Penulis Kanti W. Janis menyampaikan bahwa setiap kisah yang berhubungan dengan Banda Naira adalah kisah yang masih sangat kurang diketahui oleh orang Indonesia. Padahal sejarah yang ada di Banda bukan saja sejarah Indonesia tetapi sejarah dunia.
Artikel Terkait
Panggung Sastra Reboan Hijrah ke PDS HB Jassin - TIM Jakarta ?
Ketika Hasan dan Tardji Membaca Jejak Chairil di Sastra Reboan
Lily Yulianti Farid dan Lahirnya Sastra Reboan
15 Tahun Sastra Reboan Hadirkan Panggung Sastra untuk Semua