“Cerita tentang Banda sangat penting untuk diangkat. Mbak Sekar melalui pendekatan fiksi dan roman membuat pembaca mudah terbawa dan bisa membayangkan keindahan Banda,” tutur Kanti.
Baca Juga: Dukung Kampung Moderasi Beragama, Alam Sutera Sumbang 214 Patung Garuda Pancasila
Ada empat tokoh sentral dalam novel ini yaitu Aru dan Mariana, serta Izabel Larasati dan Banyu. Sosok Aru merupakan pemuda Banda dengan kulit coklat dan rambut agak ikal. Sementara Mariana berasal dari Belanda yang jatidirinya menyimpan rahasia.
Pada kesempatan tersebut, Kanti menyoroti cerita pemberontakan para pemuda Banda dari penjajahan Belanda yang memonopoli pala. Serta terjadinya genosida yang melenyapkan hampir seluruh orang asli Banda.
“Artinya kita kehilangan sejarah dan kebudayaan, tradisi dan kearifan lokal dan teknologi-teknologi yang ada di Banda,” imbuhnya.
Baca Juga: Penanaman 1.000 Bibit Pohon untuk Mitigasi Pascalongsor Cihanjuang
Kanti pun mengajukan pertanyaan, “Banda dijajah karena buah pala, tapi apakah hari ini pala menjadi hal yang populer di Indonesia?”.
Karena itu menurutnya, harus ada upaya serius untuk mengumpulkan kepingan-kepingan dan menyusun kembali kepingan-kepingan puzzle tentang Banda Naira.
Sementara itu, Sekar Ayu Asmara menyampaikan bahwa alasan kenapa kita dijajah Belanda selama 350 tahun karena buah pala. Dulu pala hanya tumbuh di Banda dan tidak ada di daerah lain.
Baca Juga: BNPB Suguhkan Pentas Budaya Lokal dengan Pesan Kebencanaan
Ketika terjadi perjanjian Breda, Inggris yang keluar dari Banda mencangkok buah pala dan ditanam di wilayah-wilayah kekuasaanya. Penjanjian Breda menyatakan kesepakatan antara Inggris dan Belanda untuk menukar Pulau Run di Maluku dengan Manhattan di Amerika Serikat.
Salah satu manfaat buah pala adalah memiliki sifat mengawetkan. “Orang dulu kan belum ada lemari es. Jadi daging cepat busuk. Ternyata ketika disimpan dalam kontak dan ditaruh buah pala, daging menjadi awet,” tutur Sekar yang pernah tinggal di Banda Naira selama dua minggu.
Baca Juga: 53 Komunitas Sastra dan Perorangan Terima Bantuan Pemerintah
Pembina Sastra Reboan, Slamet Widodo berharap para pengunjung mendapat ilmu dari diskusi buku Akulah Banda Naira. "Datang ke Sastra Reboan, pulang membawa ilmu," ungkapnya.
Selain diskusi novel Akulah Banda Naira, Sastra Reboan dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Slamet Widodo, Lasman Simanjuntak, Shantined, Willy Anna, Ace Sumantha, Sonia Renata, dan lain-lain.***
Artikel Terkait
Panggung Sastra Reboan Hijrah ke PDS HB Jassin - TIM Jakarta ?
Ketika Hasan dan Tardji Membaca Jejak Chairil di Sastra Reboan
Lily Yulianti Farid dan Lahirnya Sastra Reboan
15 Tahun Sastra Reboan Hadirkan Panggung Sastra untuk Semua