TINEMU.COM - Pelukis Sohieb Toyaroja, pada Jumat 11 Juli 2025 di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta, menggelar pameran bertajuk “Borobudur; The Way of Life". Pelukis ini menyalin tafsir rupa dengan membaca ulang 1.460 relief yang ada di dinding-dinding Candi Borobudur dengan menjadikan hanya 9 lukisan secara sangat intim dan personal. Pameran rencananya akan secara resmi dibuka oleh H Teuku Riefky Harsya, Menteri Ekonomi Kreatif RI. Sembilan lukisan itu adalah berjudul Samodra Raksa, Manohara, Raja-Raja, Stupa, Jataka, Gajah, Sakre, Dewi Hariti dan karakter Buddha.
Sohieb melukiskan kembali lewat rujukan foto-foto di buku “1460 Buku Pandu Relief Naratif Mahastupa Borobudur”, karya Handoko Vijjananda, terbitan Ehipassiko Foundation
Ia mempresentasikajn ulang cara pandang menyalin visualisasi foto-foto di buku tersebut. Saat sama menawarkan apresian untuk memahami ulang bagaimana para seniman ratusan tahun lalu mencipta simbol-simbol sakral di relief candi Borobudur.
Baca Juga: Motif Amalan, Tema Artjog 2025 yang “Menyesatkan” Tapi “Edgy”
“Saya sejak lama terpikat melukis menyoal sejarah dan tradisi. Tentunya pengaruh pertemuan saya dengan para jurnalis, arkeolog, filolog juga sejumlah kritikus seni dan kurator seni. Selain, membaca buku-buku yang membuat pemahaman saya tentang Borobudur makin berarti,” kata Sohied Toyaredja.
Seperti katanya dalam wawancara, bahwa ia sering melakukan perjalanan yang lebih dikatakan sebagai obseravasi batin sebagai orang Jawa, bahkan sampai ke Pulau Bali.
“Saya menyukai bertandang ke situs-situs tertentu yang dianggap sebagai petilasan dan artefak serta penanda Kerajaan atau candi-candi. Itu sebagai simbol kearifan leluhur Jawa, agar saya bisa menghayatinya sebagai seniman yang kebetulan dari Jawa,” imbuhnya.
Baca Juga: Garden of Dreams di Meiro: Taman Imaji yang Menyulam Mimpi dari 6 Negara
Pameran Borobudur ini, seturut penulis dan peneliti budaya, Wendri Wanhar, menyatakan bahwa Sohieb Toyaroja mengingatkan kita kepada sebutan Citralekha. “Gambar di Mandala Borobudur yang pada masa kini disebut relief, pada masa lampau disebut Citraloka. Seniman yang membuat karya seni nan agung itu disebut Citralekha “ ujarnya.
Para Citralekha menoreh elemen visual atau wirupa Borobudur berpedoman kepada gerak semesta. Menimbang terbit dan tenggelamnya matahari searah jarum jam, yang menurut Wendry familar disebut Purwa Daksina. “Maka membaca elemen rupa Borobudur, seturut ajaran Budhis adalah kita selayaknya meposisikan diri secara sakral untuk membuka tabir rahasia gambar-gambar tersebut dengan jalan Mudra” imbuhnya.
Sementara itu, seorang Lawyer dan pecinta seni Pahrur Dalimeunthe menyebut bahwa lukisan Sohieb menampilkan subjek dan materi yang kompleks serta jauh dari kesan sederhana.
“Sepertinya ada ruh dan jiwa yang hidup dalam semua bentuk dan warna-warna yang ditampilkan. Saya merasakan kedalaman narasi yang berbicara tentang spiritualitas, harapan, dan konsistensi yang khas memerangkap pemahaman tanpa harus dengan berkata-kata”’ ujarnya.
Baca Juga: Kendys & B-tree Gallery Gelar The Brighter, The Sweeter: Ketika Luka Menjelma Rasa Manis