Sebelumnya, Sidang ke-15 Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Paris, Desember 2020 lalu, telah menetapkan usulan Indonesia dan Malaysia atas pantun sebagai warisan budaya takbenda.
Baca Juga: Presiden Jokowi Kukuhkan 68 Anggota Paskibraka 2022
UNESCO adalah organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bertujuan mempromosikan perdamaian dunia dan keamanan melalui kerja sama internasional pendidikan, kesenian, sains, dan budaya.
Suharti menuturkan, perjuangan pengusulan pantun merupakan langkah yang tidak singkat, dimulai pada 2016 dengan inisiasi komunitas pantun dan Asosiasi Tradisi Lisan yang tetap mengawal pengusulan hingga ditetapkan.
“Upaya pengusulan bersama diawali dengan melakukan penjajakan, komunikasi bersama dengan negara serumpun Melayu lain, di antaranya Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina. Akhirnya diputuskan pengusulan bersama oleh dua negara, Indonesia dan Malaysia,” ucap Suharti.
Baca Juga: No More Tears To Cry, Single Teranyar Bullet For My Valentine
Menjadikan pantun warisan dunia, harus diawali riset untuk mengetahui kondisi terkini keberadaan pantun di Indonesia dan Malaysia. “Apalagi sebagai sebuah tradisi lisan, pewarisan nilai-nilai yang ada pada pantun pasti berbeda dengan pewarisan tradisi lainnya,” terang Suharti.
Proses pengusulan juga tidak mudah. “Kita tahu betapa selektifnya UNESCO menilai dan menetapkan warisan budaya. Tetapi semua hambatan yang dihadapi tidak menyurutkan semangat kita,” ucapnya.
Upaya pantang menyerah itu akhirnya berbuah manis. Pada tahun 2020, di tengah-tengah bencana pandemi Covid-19, Indonesia mendapat berita menggembirakan dan membanggakan, bahwa pantun ditetapkan menjadi warisan budaya dunia.
Baca Juga: Perlawanan Rakyat Aceh Hingga Papua demi Kemerdekaan Indonesia dari Penjajahan Jepang
Sesjen Suharti berharap agar kolaborasi bersama masyarakat dan pemerintah daerah tidak berakhir di sini.
“Kita perlu terus bersama-sama memastikan keberlangsungan pantun sebagai sebuah warisan budaya dunia. Tradisi ini harus bisa kita turunkan ke generasi-generasi berikutnya,” harap Suharti.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam sambutannya menuturkan bahwa pengusulan pantun bersama negara lain merupakan hal perdana dilakukan Indonesia.
Ia berharap semoga hal ini menjadi pintu untuk membuka dialog budaya sebagai bagian dari diplomasi budaya yang lebih baik lagi dengan negara-negara di kawasan ASEAN.
Artikel Terkait
Warisan Budaya Dunia Harus Memiliki Nilai Universal Luar Biasa
Reog Ponorogo Masuk 3 Besar Nominasi Tunggal Usulan Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO
Pemerintah Ajukan 4 Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Masyarakat Harus Ikut Melestarikan
Sandiaga Uno Dorong Potensi Desa Wisata Warisan Leluhur Bugisan, Ciptakan Lapangan Kerja
SangiRUN Night Trail 2022, Dekatkan Masyarakat dengan Warisan Budaya