TINEMU.COM - Komunitas Sastra Reboan menggelar perayaan ulang tahun ke-16 di di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta pada Rabu malam, 29 Mei 2024. Acara dimeriahkan dengan pemotongan tumpeng, peluncuran buku “Punggung Panggung”, pembacaan puisi, dan hiburan musik.
Usia 16 tahun merupakan perjalanan panjang bagi sebuah komunitas sastra. Tak banyak komunitas sastra yang bertahan lebih dari 10 tahun, dengan tetap aktif dan rutin mengadakan acara sastra.
Pendiri Sastra Raboan, Penyair Yo Sugianto merasa bangga bisa menyaksikan Sastra Reboan tetap bertahan selama 16 tahun. Penulis buku puisi “Di Lengkung Alis Matamu” yang kini bermukim di Yogyakarta ini membuat catatan untuk mengenang perjalanan panjang Sastra Reboan.
Baca Juga: Aksi Membaca Bersama di Ruang Publik Tingkatkan Budaya Baca
Menyaksikan Sastra Reboan tetap bertahan selama 16 tahun merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya dan teman-teman, yang turut mengalami pasang surutnya menangani panggung ini.
Tak terasa Reboan, begitu biasa disebut, menjadi komunitas tersendiri. Tak hanya mengusung panggung untuk berekspresi dalam berbagai seni. Reboan menjadi tempat para penulis meluncurkan karyanya, tempat temu kangen sambil menanti giliran membaca puisi.
Reboan juga bukan hanya milik para penulis, baik yang baru belajar bersastra atau sudah punya buku kumpulan karyanya.
Baca Juga: KAI Kecam Aksi Pelemparan Batu terhadap KA Pasundan
Jika dicermati, banyak orang kantoran yang belum pernah menghadiri acara sastra dengan tekun menyimak apa yang tersaji di panggung di Warung Apresiasi (Wapress), Bulungan, Jakarta Selatan setiap hari Rabu akhir bulan.
Hadirnya para “amatir” itu sangat membanggakan, meski kita tidak mengenal banyak sosok mereka. Setidaknya, seperti yang sering saya katakan, lima persen virus sastra masuk pada diri mereka. Persentase yang terus bertambah saat beberapa dari mereka datang kembali di edisi Reboan berikutnya.
Saya juga amatiran, hanya suka sastra terutama puisi. Sering merasakan gelisah menyaksikan kurangnya panggung bagi yang pemula seperti saya. Maka Reboan hadir hanya dengan tujuan sederhana: Sastra bagi siapa saja.
Baca Juga: Denny Frust Rilis Album dan Siapkan Tur Keliling Asia
Tinggal bagaimana menyampaikan sastra itu seperti apa. Maka dipilihlah pola gado-gado. Tidak mengherankan jika ada band beraliran rock menjadi pembuka acara. Ada pembacaan cerpen, teater, monolog, pantomin dan tentunya pembacaan puisi.
Jika ada yang menilai “acara sastra kok pakai band metal atau nge-rock,” saya dan teman-teman tutup telinga saja. Pola gado-gado tetap dijalankan hingga kini. Reboan bukan acara yang menuntut formalitas, atau hening karena di Wapres tetaplah riuh dengan kendaraan lalu lalang hingga malam hari.
Artikel Terkait
Laboratorium Musik Jakarta Bawakan Cinta di Sastra Reboan
Budhi Setyawan Luncurkan Buku ‘Kembali ke Puisi’ di Sastra Reboan
Peluncuran Buku Punggung Panggung Warnai Perayaan Ulang Tahun ke-16 Sastra Reboan
Reuni Para Pendiri Sastra Reboan di Peluncuran Buku Punggung Panggung
Pada Suatu Rebo(an), Kritik Ananda Sukarlan Tentang Sastra Reboan