Laboratorium Musik Jakarta Bawakan Cinta di Sastra Reboan

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Jumat, 15 September 2023 | 14:10 WIB
Penampilan Laboratorium Musik Jakarta menghangatkan panggung Sastra Reboan pada 13 September 2023. (Setiyo)
Penampilan Laboratorium Musik Jakarta menghangatkan panggung Sastra Reboan pada 13 September 2023. (Setiyo)

TINEMU.COM - Penampilan musik dan puisi yang dibawakan Laboratorium Musik Jakarta menghangatkan panggung Sastra Reboan yang digelar di Auditorium PDS HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Rabu sore, 13 September 2023.

Dalam panggung Sastra Reboan yang mengusung tajuk “Ini Aku Bawakan Cinta”, Laboratorium Musik Jakarta tampil menyanyikan lagu dari puisi-puisi karya Dimas Budi Susilo.

Kehadiran Laboratorium Musik Jakarta ternyata memberi kesan mendalam bagi musisi Jodhi Yudono hingga menyempatkan diri untuk menulis ulasan berjudul “Laboratorium Musik Jakarta di Mata Saya.”

Baca Juga: iFuel, Solusi Inovatif untuk Peningkatan Kinerja Logistik Indonesia

Menyimak musik dan puisi yang dibawakan oleh Lab. Musik Jakarta, Jodhi merasa seperti menyaksikan anak kecil polos yang kadang meracau tentang situasi yang membuatnya tak nyaman, seperti ketidakadilan, kecurangan, Keculasan, dan lain-lain.

Di saat lain, Lab. Musik Jakarta mengajak kita menikmati hidup apa adanya, tanpa beban, seperti kita menikmati secangkir kopi pahit. Jodhi pun membaca penggalan puisi berjudul Secangkir Kopi Pahit dari Lab. Musik Jakarta.

Kopi secangkir kopi pahit kopi pahit/ Lewat secangkir kopi pahit/ (Secangkir kopi pahit, terlupakanlah)/ Terlupakanlah beban hidup yang menghimpit

Baca Juga: Wulan Guritno ditunggu Bareskrim, Buntut Iklan Judi Online

“Menikmati Lab. Musik Jakarta, saya seperti diajak mengapung di udara terbuka tanpa batas. Kadang berujung pada keluasan cakrawala makna. Tapi kadang juga dibenamkan ke comberan yang kelam dan pekat,” ungkap Jodhi.

Sama seperti komposisi lagu-lagu yang diciptakannya, puisi-puisi Budi juga penuh kejutan. Puisinya tidak berima, tapi penuh personifikasi.

Misalnya pada puisi berjudul “Ini aku Bawakan Cinta,” Budi menulis: Gumpalan lamunanku yang membeku/ kuseduh kujadikan kopi/ ampasnya kulinting/ kujadikan cerutu/ biar tak tersisa saripatinya/ Dan kemudian kubawa berjalan…/ telusuri hidup/ sambil mengunjungimu.

Baca Juga: Diajak Presiden Jokowi Jajal Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Ini Komentar Raffi Ahmad Hingga Gading Marten

Menurut Jodhi, Puisi-puisi karya Budi masuk dalam kategori surealisme, aliran dalam karya seni yang berusaha membebaskan dirinya dari kontrol kesadaran dunia, seperti orang yang bermimpi dan segala kemungkinan bisa terjadi.

“Demikianlah Budi dalam menulis puisi, ia mementingkan aspek bawah sadar dan nonrasional, di luar kenyataan,” tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X