Anggaran Riset Turun Pasca Integrasi? Simak Penjelasan Kepala BRIN

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Senin, 7 Februari 2022 | 15:09 WIB
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat meninjau Pusat Teknologi Penerbangan di Rumpin, Bogor Pada 24 September 2021. (Humas BRIN)
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat meninjau Pusat Teknologi Penerbangan di Rumpin, Bogor Pada 24 September 2021. (Humas BRIN)

TINEMU.COM - Beberapa kalangan beranggapan bahwa anggaran riset di Indonesia pasca integrasi BRIN menjadi turun. Anggaran riset sebesar Rp 272 miliar dianggap jauh lebih kecil ketimbang sebelum berintegrasi dengan BRIN.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menjelaskan bahwa anggaran tersebut hanya untuk belanja bahan riset, selebihnya dibebankan pada anggaran yang terdapat di kedeputian dan sekretariat utama.

Kepala BRIN menegaskan interpretasi terhadap anggaran riset di BRIN hanya Rp 272 miliar, salah besar. Ia menerangkan, besaran anggaran tersebut dialokasikan hanya untuk bahan riset, yang didistribusikan langsung ke pusat riset.

Baca Juga: Ingin Punya Bisnis? Ini 30 Ide Bisnis Skala Kecil yang Mungkin Segera Anda Mulai (Bagian 1)

“Anggaran yang langsung diterima oleh Pusat Riset memang tidak besar, hanya sekitar 272 miliar. Tapi jangan lupa, anggaran itu hanya untuk beli bahan riset, tidak untuk yang lain seperti raker, rakor, gaji pegawai, bayar listrik, dan lainnya,” jelas Handoko melalui keterangan tertulis pada Senin, 7 Februari 2022.

Menurutnya, banyak yang berpendapat bahwa anggaran riset menjadi turun, mengingat selama ini anggaran yang diterima oleh lembaga riset itu hanya untuk riset. Pada kenyataannya, di dalam anggaran tersebut terdapat banyak komponen seperti gaji pegawai, biaya operasional, dan lainnya.

Handoko menjelaskan, anggaran BRIN saat ini masih berasal dari eks 5 entitas utama riset sebelumnya yakni BATAN, LIPI, BPPT, LAPAN, Kemenristek dengan total 6,096 trilyun. Anggaran tersebut bersumber dari rupiah murni, SBSN, Penerimaan Negara Bukan Pajak, dan pinjaman luar negeri.

Baca Juga: Keren! Mahasiswa UI Ciptakan Transaura, Alat Penerjemah Bahasa Isyarat

Selain anggaran untuk belanja bahan riset tersebut, ada anggaran yang dikelola oleh Deputi SDM Iptek sebesar Rp 188 miliar. Anggaran ini dimanfaatkan untuk membiayai research assistant, profesor tamu, postdoctoral, yang selama ini tidak bisa dilakukan.

”Anggaran di Kedeputian SDM Iptek antaranya untuk membiayai profesor tamu, postdoc, research assistant, mahasiswa S2/S3 program degreeby-research, dan lainnya,” sebutnya.

Selain itu, dalam paparannya disebutkan, terdapat anggaran yang dikelola oleh Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi yakni sebesar 2,168 triliun. “Anggaran ini diperuntukkan pembangunan dan perawatan infrastruktur untuk keperluan riset,” terangnya.

Baca Juga: Mars Ya Lal Wathan Dikumandangkan Presparani Gereja Katolik Manggarai dalam Harlah NU di NTT

Penganggaran lainnya dikelola oleh Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi sebesar Rp 189 miliar. Anggaran ini, dijelaskannya, diperuntukkan memberikan fasilitas kepada para periset untuk melakukan berbagai kegiatan risetnya dengan memanfaatkan fasilitas riset yang dimiliki BRIN.

“Anggaran ini dialokasikan untuk aneka hibah riset, seperti hari layar, ekspedisi, uji produk, akuisisi pengetahuan lokal, pusat kolaborasi riset, dan lainnya,” tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Astrid Rilis Album Terbarunya Lewat Jalur Indie

Rabu, 15 April 2026 | 20:44 WIB

Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara

Senin, 13 April 2026 | 10:43 WIB
X