"Berapa sewa di situ?" Tanya saya.
"Seratus juta per tahun pak."
"Wah, harganya bahkan lebih mahal dari sewa kantorku," Kata saya sambil tertawa.
"punya berapa anak buah?"
"Sepuluh, Pak."
"Hahaha, hebat," saya ketawa lepas.
"Ini saya beli tiket kayak beli kelas eksekutif aja, Pak," Sela dia.
Baca Juga: Shaggydog Luncurkan Video Musik Single Mudik
"Kok bisa?"
"Soalnya tiket awal ternyata sudah hangus gara-gara kelamaan antri masuk kapal. 'Kan bukan salah saya kelamaan nunggu masuk kapal. Orang sudah di depan pelabuhan. Tapi petugas gak mau terima. Terpaksa beli tiket baru buat semua penumpang dan mobil. Saya sempat marah-marah tadi," Dia bersungut-sungut. Anggota rombongannya yang lain lagi istirahat di ruang ber-ac.
"Kalo mau diikuti, sebenernya saya malas mudik, Pak. Repot dan mahal. Pekerjaan juga banyak yang belum kelar. Ada aja pelanggan minta ini-itu. Tapi ya buat nyenengin anak-istri dan teman-teman, kita jalani aja," Katanya sambil mengembuskan asap rokok.
Feri berlayar terasa pelan. Penumpang luber di sepanjang pinggir kapal. Kebanyakan berbaring di tikar.
Saya kira kapal akan sampai di Bakauheni jauh sebelum subuh, tapi sebelum merapat ke pelabuhan, azan subuh terdengar dari daratan. Di hari terakhir Ramadan itu, saya sahur dengan sepotong roti dan setengah botol air minum.
Usai salat subuh baru saya jalan ke arah travel 'perintis' jurusan Lintas Timur Lampung. Mobil hanya menunggu calo cari penumpang lain, setelah itu berangkat. Satu kursi satu orang.
Baca Juga: Lebaran, Cerita dan Tertawa
Artikel Terkait
Bersama: Beraroma dan Bercerita
Merayakan Nostalgia Bersama Lagu "Komang" Raim Laode
Godaan (Bacaan) Masakan
Viral, Candaan Komeng Pada Abdel Achrian yang Tengah Berduka