TINEMU.COM - Mudik lebaran 1444 H berlangsung menyenangkan dan lancar. Berangkat dari Stasiun Jurangmangu menggunakan KRL (commuter line), saya menuju ke Stasiun Rangkasbitung. Dan dari Stasiun Rangkasbitung lanjut dengan tiket kereta lokal seharga Rp 3000 ke Stasiun Cilegon, terus gratis naik bus Damri ke Pelabuhan Merak.
Sebenarnya jurusan kereta api lokal ialah Rangkasbitung – Merak, tapi untuk mengantisipiasi kesemrawutan dan kepadatan arus mudik, pemerintah menahan pemudik sampai Cilegon dan mengalihkan pemudik motor ke pelabuhan Ciwandan. Hasilnya di Pelabuhan Merak tidak berjubel pemudik. Saya beli tiket online kelas ekonomi dari ferizy dua hari sebelumnya.
Di kapal feri saya duduk di bangku kayu pinggir pintu dek. Di samping saya ada seorang pemuda. Tampilannya dekil, tapi potongan rambutnya gaya. Dia merokok dan minum kopi kalengan. Dia bertanya kepada saya, "Dari mana?" sambil menawari rokok. Akhirnya kami pun mengobrol.
Baca Juga: Resensi Buku: Kebebasan Berkeyakinan Masih Menjadi Problem Serius di Indonesia
Dia bilang ini kali pertama dirinya merantau dari kampung di pinggir Kota Padang. Dia bekerja di bengkel mobil milik temannya di Cikupa. Tak lama yang dia sebut sebagai temannya itu datang dan duduk di antara kami membawa dua gelas kopi saset yang langsung dia tawarkan ke saya. Saya tolak halus karena sudah minum kopi sebelum naik kapal.
Kedua pemuda ini mengobrol dalam Bahasa Jawa — jadi saya kira mereka adalah anak keturunan transmigran, bukan urang awak.
"Ayo, Pak. Jangan sungkan,' Katanya.
Saya bilang, "Terimakasih."
Jadilah kami mengobrol. Penampilan bos bengkel ini juga sama dekil, kaos dan celana jins yang kelihatan sudah lusuh serta bersandal jepit. Tampangnya sama muda dengan anak buahnya. Sama-sama langsing. Tidak mencerminkan bos muda yang angkuh.
Bos muda ini cerita dia dulu kerja di jaringan bengkel besar, tapi setelah sering dipindah-pindah lama-lama dia bosan dan ingin punya bengkel sendiri karena yakin sudah paham bisnis bengkel. Dia bisa segala urusan servis mobil, termasuk modifikasi.
Baca Juga: Resensi Film 65, Kisah Heroik Sepanjang 15 Km di Zaman Jurasik
"Mobil yang saya pakai mudik ini, mesin dan bodinya beda, tapi surat-surat lengkap," katanya.
Mula-mula dia sewa lahan kecil 6 juta per tahun buat bengkel.
"Saya sering dikomplen sama RT karena kerja sampai tengah malam," Katanya tertawa, "Tapi gimana lagi saya gak ada tempat lain."
Setelah bisa menabung, dia cari tempat baru sampai akhirnya sekarang pindah ke lahan cukup luas di Cikupa.