TINEMU.COM - Kekhasan paling utama dari manusia landak menurut Berlin adalah suka “menghubung-hubungkan semua hal kepada satu visi utama tunggal ... lewat ketentuan-ketentuan yang mereka pikirkan, rasakan dan pahami—tunggal, universal, dalam ketentuan-ketentuan prinsip-prinsip terorganisir yang menurut pendapat mereka sendiri memiliki arti.”
Sebaliknya, manusia rubah adalah mereka yang mengejar banyak tujuan, seringkali tak saling berhubungan dan bahkan berlawanan … pemikiran mereka tersebar atau berserakan, selalu dalam pergerakan pada banyak tingkatan-tingkatan.”
Manusia rubah juga “membatasi hanya pada esensi dari aneka pengalaman dan objek-objek sebagaimana adanya dalam dirinya sendiri tanpa, secara sadar atau tidak sadar, berusaha menyesuaikan dengannya, atau mengecualikan mereka dari siapapun yang tidak berubah, serba melingkupi, yang terkadang bertentangan dengan diri sendiri (self-contradictory) dan tidak utuh, seringkali bersifat fanatik, visi batin yang menyatukan.”
Baca Juga: Amerika Serikat: Nama dan Puisi
Tersirat dari pandangan Berlin, rubah memiliki karakteristik yang tidak menyetujui sesuatu yang permanen, berambisi meringkas segala hal ke dalam satu konsep tunggal, dan memiliki sifat fanatik.
Berlin kemudian menunjuk dan mengelompokkan sederet nama besar di bidang sastra dan dunia ke dalam kategori yang dibuatnya, rubah dan landak.
Pujangga Dante adalah jenis manusia landak sedangkan Shakespeare adalah rubah; Plato, Lucretius, Pascal, Hegel, Dostoevsky, Nietzsche, Ibsen, Proust dalam kadar yang berbeda-beda adalah kumpulan rubah; Herodotus, Aristoteles, Montaigne, Erasmus, Moliere, Goethe, Pushkin, Balzac, Joyce adalah kawanan rubah.
Bagi para peminat filsafat baik, baik yang partikelir maupun yang pro, sedikit banyaknya pasti paham Plato, Hegel dan Nietzsche adalah trio pemikir yang identik dengan sebuah gagasan Tunggal, determinative dan serba melingkupi. Plato “idea,” Hegel “roh absolut””, Nietzsche “kehendak berkuasa.”
Baca Juga: Galanggang Arang Pita Bunga, Perayaan Budaya di Jalur Kereta
Itulah barangkali yang dimaksudkan dengan adanya ketunggalan dan universalitas yang dimaknai Berlin saat ia membicarakan tentang “visi batin yang menyatukan” seperti telah disebut di atas.
Sementara itu, sependek pengetahuan saya, sangat sulit menempatkan filosof besar dari Yunani kuno Aristoteles ke dalam satu kotak gagasan utama lantaran begitu banyak tema-tema dan cabang-cabang besar filsafat dalam elaborasi-elaborasi filosofisnya.
Bagaimana dengan Leo Tolstoy? Dari penjabaran Berlin terlihat jelas bahwa Tolstoy menempati posisi khas. Pasalnya menurut Berlin “Tolstoy pada hakikatnya adalah seekor rubah, tapi meyakini sebagai seekor landak.” (by nature a fox, but believed in being a hedgehog).
Terkait padangan tentang Sejarah, Tolstoy, mengikuti penalaran Berlin, mengejek pandangan bahwa individu-individu dapat, dengan menggunakan sumber daya yang dimilikinya, memahami dan mengendalikan jalannya peristiwa-peristiwa.
Baca Juga: Sejarawan Australia, Scott Merrillees Ulas Sejarah Perkembangan Kota Jakarta Melalui Foto
Artikel Terkait
Ini Rekomendasi PB IDI untuk Penanganan Kasus Cacar Monyet di Indonesia
GamaWarni, Alat Pewarnaan Kain dan Benang dengan Pewarna Buatan
Ini Budi “Pekerti”
Inilah Para Pemenang Medali Emas OPSI 2023