Baca Juga: 6 Januari 1958 dan Malas
Sebab, faktor pemicu terjadinya bencana tidak hanya cuaca saja, namun dari berbagai hal mulai dari bagaimana kondisi hulu hingga tata kelola di bagian hilirnya.
Menurut Agus, masyarakat bersama pemerintah daerah tetap wajib melakukan upaya-upaya mitigasi, peningkatan kesiapsiagaan dan antisipasi lain yang dianggap perlu dalam rangka meminimalisir dampak risiko bencana.
“Ini PR (pekerjaan rumah-red) bersama. Kita semua tetap wajib meningkatkan mitigasi, kesiapsiagaan dan langkah antisipatif lainnya meski kita tahu saat ini sudah dilaksanakan TMC,” jelas Agus.
Baca Juga: Mobil dan 5 Januari 1974
“Bagaimana kebiasan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga lingkungan di sektor hulu, bagaimana tata kelola lingkungan di wilayah hilir ini menjadi satu rangkaian yang tidak boleh terputus demi mengurangi risiko bencana,” tambahnya.
Terkait pelaksanaan TMC di wilayah luar Jawa, Agus mengatakan bahwa nantinya akan ada evaluasi bersama antar lintas kementerian/lembaga dan stakeholder lain yang terlibat.
Sementara ini memang masih dilakukan di wilayah Pulau Jawa bagian barat. Sebab, hal itu sebagaimana merujuk dari rekomendasi BMKG bersama BRIN untuk pembagian wilayah pelaksanaannya.***
Artikel Terkait
Antisipasi Cuaca Esktrem, Ini Cara Kerja Teknologi Modifikasi Cuaca
Berawal untuk Pertanian, Teknologi Modifikasi Cuaca Kini Berperan dalam Mitigasi Bencana
Basahi Lahan Gambut di Jambi, BRIN Gelar Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca
BNPB Operasikan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Kelancaran Sail Teluk Cenderawasih 2023
Sukseskan Sail Teluk Cenderawasih, BMKG Lancarkan Operasi TMC