Bersukacita Matematika

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 11 Februari 2025 | 09:38 WIB
Ilustrasi Matematika (Grok)
Ilustrasi Matematika (Grok)

TINEMU.COM - Gereja berurusan dengan matematika. Pada awal berkuasa, Prabowo Subianto mementingkan dan mengagungkan matematika. Di tuturan, ia sempat menganjurkan matematika sudah diajarkan sejak TK.

Konon, matematika mementukan kemajuan dan kemuliaan Indonesia abad XXI. Seruan itu disambut dan ditanggapi oleh PGI (Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia).

Di Kompas, 10 Februari 2025, kita membaca berita mengenai matematika dihadirkan dalam acara Pembukaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap PGI. Acara diadakan di Malang, 7 Februari 2025, menghadirkan anak-anak dan guru bersukacita dengan matematika.

Baca Juga: Jujun S Suriasumantri, Tokoh dan Tiga Bukunya

Kita mengutip: “Ketiga anak (Jose Augusto Nerotou, Fanita Tenouye, dan Cresya Wiaopa) menunjukkan kepiawaian menjawab pertanyaan terkait berhitung.”

Di depan para pemimpin gereja, mereka membuktikan gairah matematika. Kehadiran “pentas” matematika itu membawa pesan agar para guru membuang galak dan berganti sukacita dalam mengajarkan matematika.

Guru berperan besar agar murid-murid gandrung dan ketagihan matematika.

Kini, kita dalam perwujudan menjadikan anak-anak dan remaja di seantero Indonesia tampil dengan kegirangan bermatematika, bukan benci dan jemu.

Matematika memang penting untuk Indonesia meski memiliki masa lalu mengandung galak, takut, pusing, dan rumit.

Baca Juga: If You Believe Talkshow dan Konser Tak Biasa dari Ananda Sukarlan dan Rotary Club untuk Kaum Disabilitas

Pengisahan dan pengajaran matematika diikhtiarkan membalik situasi pernah membuat murid-murid merasa dikutuk atau dihukum.

Bersumber pemikiran-pemikiran Alfred North Whitehead, Jujun S Suriasumantri (1984) menjelaskan kepada para pembaca di Indonesia: “Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat ‘artifisial’ yang baru mempunyai arti setelag sebuah makna diberikan padanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus yang mati.”

Pada suatu masa, kita memang tertekan dan terbebani oleh “perintah” mengingat seribu rumus matematika agar dapat menjawab ulangan harian dan soal-soal ujian.

Matematika itu “pasukan rumus” menghancurkan hari-hari dialami murid-murid dan “mencipta” mimpi-mimpi buruk setiap malam.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tandatangani Sepatu Futsal Anak Sekolah

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X