TINEMU.COM - Gereja berurusan dengan matematika. Pada awal berkuasa, Prabowo Subianto mementingkan dan mengagungkan matematika. Di tuturan, ia sempat menganjurkan matematika sudah diajarkan sejak TK.
Konon, matematika mementukan kemajuan dan kemuliaan Indonesia abad XXI. Seruan itu disambut dan ditanggapi oleh PGI (Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia).
Di Kompas, 10 Februari 2025, kita membaca berita mengenai matematika dihadirkan dalam acara Pembukaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap PGI. Acara diadakan di Malang, 7 Februari 2025, menghadirkan anak-anak dan guru bersukacita dengan matematika.
Baca Juga: Jujun S Suriasumantri, Tokoh dan Tiga Bukunya
Kita mengutip: “Ketiga anak (Jose Augusto Nerotou, Fanita Tenouye, dan Cresya Wiaopa) menunjukkan kepiawaian menjawab pertanyaan terkait berhitung.”
Di depan para pemimpin gereja, mereka membuktikan gairah matematika. Kehadiran “pentas” matematika itu membawa pesan agar para guru membuang galak dan berganti sukacita dalam mengajarkan matematika.
Guru berperan besar agar murid-murid gandrung dan ketagihan matematika.
Kini, kita dalam perwujudan menjadikan anak-anak dan remaja di seantero Indonesia tampil dengan kegirangan bermatematika, bukan benci dan jemu.
Matematika memang penting untuk Indonesia meski memiliki masa lalu mengandung galak, takut, pusing, dan rumit.
Pengisahan dan pengajaran matematika diikhtiarkan membalik situasi pernah membuat murid-murid merasa dikutuk atau dihukum.
Bersumber pemikiran-pemikiran Alfred North Whitehead, Jujun S Suriasumantri (1984) menjelaskan kepada para pembaca di Indonesia: “Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat ‘artifisial’ yang baru mempunyai arti setelag sebuah makna diberikan padanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus yang mati.”
Pada suatu masa, kita memang tertekan dan terbebani oleh “perintah” mengingat seribu rumus matematika agar dapat menjawab ulangan harian dan soal-soal ujian.
Matematika itu “pasukan rumus” menghancurkan hari-hari dialami murid-murid dan “mencipta” mimpi-mimpi buruk setiap malam.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tandatangani Sepatu Futsal Anak Sekolah
Artikel Terkait
Rimawan Pradiptya, Ekonom yang Aktif Suarakan Anti Korupsi
Kisah Inspiratif Sylvia Grace Yuvenna, Lulus S2 di Usia 42 Tahun dengan IPK Hampir Sempurna
Kisah Pandu Kurniawan, Jadi Akuntan Publik Termuda di Usia 29 Tahun
Kelola Stres dengan Brain Dump Journaling