Tips Kembangkan Passion Bagi Pelajar Agar Peringkat Pendidikan Indonesia Tak Jeblok

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 27 November 2022 | 14:42 WIB
Penyerahan Hadiah Laptop oleh Wikan Sakarinto saat Seminar, kepada Pemenang Kompetisi SEVIMA (SEVIMA)
Penyerahan Hadiah Laptop oleh Wikan Sakarinto saat Seminar, kepada Pemenang Kompetisi SEVIMA (SEVIMA)

TINEMU.COM - Sudah 77 tahun merdeka, namun dunia pendidikan Indonesia masih konsisten menempati peringkat terbawah dalam berbagai survei pendidikan tingkat internasional.

Direktur Jenderal Vokasi Kemendikbudristek Periode 2019-2022, Wikan Sakarinto mengungkapkan hal tersebut dalam Seminar dan Peluncuran Modul MBKM di SEVIMA Platform di Auditorium LPP Yogyakarta pada Jumat, 25 November 2022.

Survei PISA misalnya, menyebutkan hampir 90% siswa Indonesia memiliki tingkat kemampuan berpikir yang rendah bahkan sangat rendah. Survei Martin Prosperity Institute juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling tidak kreatif di dunia.

Baca Juga: Kuatkan Korban Gempa Cianjur, KAI dan BUMN Berikan Trauma Healing

“Jangankan dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia, peringkat pendidikan kita bahkan jauh di bawah negara-negara Afrika seperti Maroko. Hasilnya, hoax mudah menyebar, dan perusahaan mengeluh karena tidak cocok apa yang dibutuhkan industri dengan yang diluluskan sekolah dan kampus,” ungkap Wikan.

Belajar Tanpa Passion

Akar masalah dari jebloknya pencapaian dunia pendidikan Indonesia, menurut Wikan, terletak pada ketiadaan passion atau semangat dalam diri pelajar, saat bersekolah maupun berkuliah. Tak sedikit pelajar yang akhirnya mengikuti pelajaran karena terpaksa, bukan karena keinginan sendiri.

Wikan mengisahkan pengalamannya pribadi saat berkuliah. Awalnya ia bercita-cita menjadi Insinyur dan berkuliah sarjana (S1) di Universitas Gadjah Mada. Namun sayang nasib mengantarkannya menjadi Mahasiswa Diploma 3 (D3) Teknik Mesin. Karena paksaan dan diterima di jurusan yang tidak diminatinya, Wikan akhirnya belajar tanpa semangat.

Baca Juga: Momentum Hari Guru Nasional, Kemenag Rilis Pusaka Super Apps untuk Integrasikan Layanan

“Belajar karena terpaksa atas tuntutan, tidak semangat, hari demi hari saat kuliah rasanya berat sekali. Beda kalau pelajaran itu memang passion dia, saya punya murid yang bahkan nggak mau pulang sampai malam hari. Masih kerja di bengkel yang dikelola kampus. Saya sampai suruh pulang supaya bisa bersosialisasi dan pacaran!” ungkap Wikan.

Kurikulum yang terlalu kaku juga menurut Wikan menghambat pelajar menumbuhkan passion. Semasa Wikan kuliah, ada pelajaran mengikir besi selama 100 jam.

Artinya dua minggu penuh pada jam kuliah, Wikan dan ratusan teman-temannya di jurusan D3 Teknik Mesin harus berdiri dengan gaya kuda-kuda, mengikir besi, tanpa mengetahui apa tujuan dari aktivitas itu.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Pemimpin yang Mikirin Rakyat Itu Contohnya Rambutnya Sampai Putih Semua

“Saya tidak bilang mengikir besi itu tidak penting untuk jurusan Teknik Mesin, maupun contoh pelajaran tertentu lainnya di sekolah dan kampus. Tapi apa iya belajar mengikir besi harus 100 jam? Belajar Matematika harus puluhan jam setiap minggu? Cukup sebentar saja, sambil ditumbuhkan passion plus soft skillnya (karakter). Kalau senang pasti akan dilanjutkan sendiri,” ajak Wikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: SEVIMA

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X