Segera Oh-ciok balas membentak, “Toh An-peng, jiwaku boleh dikata baru lolos dari lubang jarum. Kau pernah menyelamatkan jiwaku satu kali dan sekarang sama pula kau telah embunuh aku satu kali, kedudukan kita menjadi satu sama satu, aku tidak utang lagi padamu. Sejak kini kita putus hubungan.”
Diam-diam Toh An-peng menyesal tadi tidak binasakan saja Oh-ciok Tojin, tapi ia pun tidak menjadi jeri karena jumlah pihaknya jauh lebih banyak, segera ia pegang senjatanya, sepasang gaetan baja, lalu mendengus, “Hm, tosu busuk, kau makan dalam dan bela luar, memangnya kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Apakah kau mengira akan mampu keluar dari sini? Hm, jiwamu masih tetap berada di tanganku biarpun kau mendapat bala bantuan.”
“Tapi jiwaku sekarang tidaklah gampang kau ancam lagi,” sahut Oh-ciok sambil menangkis kedua gaetan Toh An-peng. “Biar aku ampuni kau sekali lagi, apakah kau masih tidak sadar?” bentak Oh-ciok.
Akan tetapi kesempatan itu digunakan oleh Toh An-peng untuk menyerang malah, gaetan kanan menyampok, gaetan kiri terus menarik sehingga perut Oh-ciok terluka.
Sambil menahan rasa sakit, Oh-ciok menghela napas dan berkata, “Nyata mati pun kau tidak mau sadar, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau.”
“Kini kau sudah mirip ikan tanpa air, kau masih ingin mengadu jiwa segala?” jengek Toh An-peng berbareng kedua gaetannya bekerja cepat sehingga golok Oh-ciok terkurung rapat.
Dengan permainan golok kilat Oh-ciok Tojin membacok dan menabas cepat luar biasa, terdengar suara ‘trang-tring’ yang nyaring mendering tak berhenti-henti. Akan tetapi golok Oh-ciok benar-benar terkunci sukar terlepas dari rintangan sepasang gaetan lawan, asal ujung golok mencapai lingkaran senjata musuh tentu sudah terbentur balik.
Di tengah pertarungan sengit itu Oh-ciok mulai merasakan lengan kanan rada kemeng dan kaku, golok yang dia tabaskan lamban-laun menjadi kurang tenaga, lengan kanan itu seperti tidak mau tunduk kepada perintahnya lagi.
Kiranya ada sekerat tulang pundak kanan Oh-ciok itu menjadi cedera kena cengkeraman Toh An-peng tadi, setelah bertempur sekian lamanya dengan sengit, akhirnya terasa gangguan tulang pundak yang terluka itu.
Toh An-peng lantas mendesak dengan lebih kencang melihat lawannya mulai kendur permainan goloknya. Oh-ciok mengertak gigi, ia pindahkan golok ke tangan kiri dan tetap bertempur mati-matian.
“Hm, apa gunanya kau bertempur mati-matian begini jiwamu sebentar lagi juga akan melayang!” jengek Toh An-peng.
Sudah tentu tangan kiri Oh-ciok tidak leluasa sebagaimana tangan kanan, maka setelah belasan jurus lagi, keadaannya menjadi tambah payah. Diam-diam Oh-ciok menyesal, mestinya tadi Toh An¬peng dibereskan lebih dulu, tapi lantaran hati tidak tega, akibatnya sekarang diri sendiri harus tertimpa bencana.
Di sebelah sana, setelah Kok Ham-hi menyelamatkan Oh-ciok dari cengkeraman Toh An-peng tadi, ia lihat keadaan Giam Wan juga sudah gawat. Ia pernah bergebrak dengan Oh-ciok, maka tahu kepandaiannya cukup kuat untuk melayani Toh An-peng dan tentu tidak gampang kalah dalam waktu singkat.
Maka ia lantas memburu ke sana untuk membantu Giam Wan. Semangat Giam Wan menjadi terbangkit ketika melihat kedatangan Kok Ham-hi. Terdengar Kok Ham-hi menggertak keras laksana bunyi geledek.
Secepat kilat ia pun menerjang ke tengah kalangan, kedua telapak tangannya menghantam, kontan dua orang musuh roboh terguling. Dengan Thian-lui-kang yang dahsyat, siapa yang berani menahannya pasti binasa, maka hanya sekejap saja Kok Ham-hi sudah merobohkan lima-enam orang musuh.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (240)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (241)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (242)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (243)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (244)