TINEMU.COM - “Para sute hendaklah ikut Suhu menyambut tamu agung!” seru Thio Tik.
Para tamu sama terheran-heran oleh sikap tuan rumah itu, tokoh macam apakah yang datang itu hingga memerlukan Su-loenghiong menyambutnya sendiri, bahkan mengerahkan segenap anak muridnya pula.
Ketika Ci In-hong berbicara dengan Lau Tay-wi diluar, Kok Ham-hi sendiri tetap tinggal di ruangan pesta. Kini ia pun ikut orang banyak memandang ke luar untuk mengetahui siapakah tamu agung yang dimaksud itu.
Tapi ia menjadi terperanjat luar biasa ketika melihat siapa tamu-tamu agung yang datang itu.
Tamu-tamu agung itu seluruhnya terdiri dari empat orang, berturut-turut adalah Kiau Goan-cong, Ki Goan-lun, Thio Goan-kiat dan Nio Hoan-hian, yaitu empat murid utama dari Bu-tong-pay yang termashur itu.
Sebagai diketahui, Thio Goan-kiat adalah tunangan Giam Wan.
Kisah lampau yang menyedihkan sebenarnya sudah hanyut terbawa sang waktu yang lalu, tapi kini mendadak terbayang kembali dalam benak Kok Ham-hi bersama datangnya keempat murid Bu-tong-pay itu.
Adegan yang mendebarkan pada malam itu seakan-akan muncul kembali di depannya.
Waktu itu dia sedang mengadakan pertemuan gelap dengan Giam Wan, sedang tenggelam di lautan asmara dan melupakan segalanya dan ketika mendadak muncul empat murid Bu-tong-pay termasuk tunangan Giam Wan sendiri, tanpa memberi kesempatan bicara padanya terus menuduh mereka sedang mengadakan perzinahan.
Gelombang cemburu itu telah berubah menjadi banjir darah, Kok Ham-hi dan Giam Wan terpaksa harus bertempur melawan keempat murid utama Bu-tong-pay.
Kok Ham-hi berhasil melukai Thio Goan-kiat dan Kiau Goan-cong, tapi Goan-kiat secara keji juga telah menggores mukanya hingga meninggalkan beberapa bekas luka yang bersilang, pemuda tampan Kok Ham-hi sejak itu telah berubah menjadi manusia yang bermuka buruk.
Kemudian datang pula ayah-ibu Giam Wan, si nona ditangkap pulang. Keempat murid Bu-tong-pay juga pergi dengan rasa dendam, Kok Ham-hi juga terpaksa harus berpisah dengan kekasihnya dan mengasingkan diri ketempat yang jauh.
Tapi Giam Wan ternyata seorang gadis yang berani, dia minggat dari rumah untuk mencarinya dan setelah berpisah empat tahun akhirnya kedua sejoli berjumpa kembali.
Gemblengan selama empat tahun itu tidak membikin goyah perasaan mereka, bahkan cinta mereka bertambah kukuh dan melekat.
Kok Ham-hi mengira dengan demikian segala persoalan tentu menjadi beres, habis hujan terbitlah terang, setelah merasakan pahit tinggallah merasakan manis.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (264)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (265)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (266)