Buku Itu Indonesia Masa Lalu

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Minggu, 4 Mei 2025 | 07:50 WIB
Buku "Kumpulan Karangan" Muhammad Hatta (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku "Kumpulan Karangan" Muhammad Hatta (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Di Depok, 26 April 2025, kaum intelektual berkumpul dalam Sekolah Pemikiran Bung Hatta (2). Di situ, mereka berpikir dan berdiskusi dengan rujukan tulisan-tulisan Hatta dari masa lalu.

Sikap atau tindakan pun menjadi referensi dalam mengerti Hatta dan Indonesia. Kita tak mengikuti hari-hari berpikir serius di Jakarta tetap bisa memuliakan Hatta.

Pada masa Indonesia ruwet oleh ijazah, wisuda, bonus demografi, makan, atau militer, kita memilih bersama Hatta (1902-1980) agar pikiran tetap waras.

Di Solo, 22 April 2025, lelaki berjenggot membeli buku-buku bekas di pasar buku Gladag. Tubuh keringatan saat siang meski di dekat kios-kios buku terdapat pohon beringin berusia tua.

Baca Juga: Becoming Led Zeppelin, Cerita Tiga Kakek Rocker dan Wawancara Langka John Bonham

Siang itu membeli buku bekas tampak terhormat ketimbang membeli mobil menggunakan uang miliaran rupiah disimpan di bawah kasur. Buku berharga murah. Pembeli mudah bahagia dengan membeli buku berlanjut menjadi pembaca.

Ia berjalan di halaman-halaman bacaan, tak perlu pamer berkuasa di jalan dengan mobil mewah. Lelaki berjenggot itu berjanji untuk waras selama sanggup membaca buku-buku bekas.

Buku berhasil dibeli berjudul Kumpulan Karangan, berisi tulisan-tulisann Mohammad Hatta. Ia kaget dan sedih. Buku dalam kondisi pantas dikasihani tanpa air mata.

Sampul buku mengabarkan kehilangan. Kertas dan huruf-huruf tercetak hilang. Pembeli menduga itu ulah binatang tapi bukan anjing atau kucing.

Baca Juga: Kapolda Lampung Dukung Program Pemutihan Pajak,Ajak Masyarakat Manfaatkan Kesempatan Ini

Pasti binatang kecil menggandrungi kertas untuk dimakan tanpa pamrih menjadi pintar.

Buku dikeluarkan oleh Penerbitan dan Balai Buku Indonesia (1953). Buku pernah menjadi koleksi Soetrisno, berketerangan SGB Negeri Karangpandan.

Pembeli mengetahui dari stempel dan tulisan tangan. Pada masa lalu, buku dibaca orang terpelajar. Buku-buku Hatta memang bukan buku menghibur atau bacaan bagi kaum kasmaran.

Di halaman awal, seruan dari Hatta: “Kepada pemuda Indonesia, jang ingat akan sumpah dan djandjinja. Indonesia tanah pusaka. Pusaka kita semua. Marilah kita mendoa Indonesia bahagia! Marilah kita berdjandji Indonesia abadi! Kusampaikan isi buku ini agar djadi pendorong baginja untuk serta membangun Indonesia jang adil dan makmur, dengan perasaan berbakti kepada tanah air.”

Baca Juga: Ketika Kata Menjadi Karya: Hak Cipta dan Kebebasan Pers yang Tak Bisa Dipisahkan

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Bersin dan Jual-Beli

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X