Indonesia selalu memikirkan dan memuliakan Indonesia. Para pembaca diajak bersumpah Indonesia, bukan sumpah-mati demi korupsi, keranjingan berpidato, pamer foto rapat, ketagihan membagi susu, atau kecapekan mengurusi makan.
Buku dalam kondisi rusak. Sekian huruf atau kata tiada. Pembaca kecewa tapi masih bisa membuat tebakan (imajinasi) mengenai kata-kata telanjur dimakan binatang.
Buku tampak unik saat halaman-halaman bekas serangan binatang itu menguak kehilangan-kehilangan sejarah di Indonesia.
Di buku masih penting terbaca di Indonesia abad XXI, kita menemukan kalimat-kalimat buatan Hatta. Kalimat-kalimat di kertas memang fana. Kita sempat membaca dan mencatat bakal mendapat hikmah-hikmah silam.
Baca Juga: ASN Jakarta Wajib Naik Transportasi Umum Setiap Rabu, Pengguna LRT dan Commuter Line Meningkat
Hatta memuliakan kertas sebagai pembaca dan penulis. Ia menjadikan hari-hari bekertas dengan beragam pemikiran. Sosok hidup dalam pesona mesin cetak, belum ketagihan komputer atau gawai.
Dulu, ia melihat kertas menggunakan mata-pengetahuan.
Kita sulit berimajinasi Hatta memegang ponsel. Sosok itu pasti tak ketagihan berada di depan kamera dan mengedarkan foto di media sosial. Hatta hidup saat kertas masih memberi kehormatan bagi kaum intelektual dan berpengaruh dalam arus politik.
Kini, kita berhadapan kertas-kertas dijilid membuktikan pergulatan pengetahuan dalam biografi Hatta. Buku berjudul Kumpulan Karangan mengartikan pewarisan pemikiran-pemikiran saat kertas mudah hancur oleh air, binatang, dan api.
Baca Juga: Menikmati Keindahan Alam Indonesia dari Jendela Kereta Panoramic
Di tulisan bertahun 1930, Hatta mengajak pembaca mengingat Indonesia dalam pertaruhan nama. Hatta menerangkan: “Terlebih dahulu, haruslah Tanah Air itu mempunjai nama sendiri. Hindia Belanda tak boleh tetap mendjadi namanja karena perkataan ini menjatakan tanda tidak merdeka. Djuga ia tidak boleh memakai Hindia sadja, seperti jang dikehendaki dahulu oleh NIP sebab nama ini mudah menimbulkan keliru dengan negara bersebelah, jang resmi bernama India. Oleh sebab itu, orang mufakat memberi nama Indonesia, suatu kata jang lazim dipakai semendjak pertengahan abad jang lalu oleh seorang etnolog besar seperti Logan, Bastian, dan lain-lain sebagai nama pulau-pulau sekumpul jang membudjur di Lautan Hindia. Nama Indonesia sebagai nama politik mulai dipakai oleh Perhimpunan Indonesia. Semendjak itu ia diterima oleh seluruh pergerakan nasional. Terutama pergerakan pemuda-pemuda sangat asjik mendendangkannja.”
Baca Juga: Lagu Baru MIkha Tambayong Ajak Pendengarnya Bangkit Dari Keraguan
Hatta menulis kalimat-kalimat itu saat masih muda. Pada 1930, Hatta berusia 28 tahun. Ia berada dalam arus sejarah Indonesia. Hatta itu pelaku dan saksi.
Sejak masih muda, ia bukan sosok mahir berkata di depan ribuan orang. Tokoh rajin membuat tulisan ketimbang berpidato. Ia bukan sesumbar di muka mikrofon. Di hadapan kertas, ia menjadi pemikir dan penggerak sejarah.
Pada 1932, Hatta memberi tulisan mengandung emosional. Kita membaca masa lalu melalui kalimat-kalimat Hatta: “Organisasi kita, kaum Daulat Rakjat, bernama Pendidikan Nasional Indonesia. Pendidikan! Bukan atau belum partai. Bukan karena chilaf atau tjuriga diambil nama ‘pendidikan’, melainkan dengan sengadja. Orang jang kurang paham menertawakan perkumpulan kita sebagai ‘sekolah-sekolahan’. Baik, kita tidak akan berketjil hati atau marah. Memang kita mau ‘bersekolah’ dahulu, bersekolah membentuk budi dan pekerti, bersekolah dalam memperkuat iman. Ternjata dalam riwajat jang baru lalu bahwa budi, pekerti, dan iman itu jang perlu bagi pergerakan kita. Tidak perlu tepuk tangan dan sorai, kalau kita tidak sanggup berdjuang, tidak tahu menahan sakit. Indonesia merdeka tidak akan tertjapai dengan agitasi sadja. Perlu kita tahu bekerdja dengan teratur, dari agitasi ke organisasi.”
Artikel Terkait
Bersin dan Jual-Beli
(Pembaca) Novel dan Kematian
Periset BRIN Angkat Narasi Wayang Pengusir Setan di Forum Internasional