TINEMU.COM - Betapa pun dia adalah orang yang dapat berpikir, meski dia tidak mencurigai Loh Hiang-ting, tapi samar-samar ia pun merasakan persoalannya tidak sederhana, sebab itulah ia ingin tangkap dulu Ci In-hong berdua untuk diusut lebih lajut perkaranya.
Sekali Su Yong-wi memberikan aba-aba, serentak ke 17 muridnya lantas bergerak maju.
Keempat jago muda Bu-tong-pay juga lantas melolos pedang untuk mencegat jalan mundur Ci In-hong berdua agar mereka tidak dapat membobol kepungan dan meloloskan diri.
Sudah tentu Ci In-hong dan Kok ham-hi pantang menyerah, daripada mati konyol, mereka lantas melawan mati-matian.
Sementara itu golok Ting Cin yang pertama-tama menyambar ke arah Ci In-hong. Mendadak hati In-hong tergerak, ia heran mengapa orang ini jauh lebih ganas daripada kawan-kawannya.
Tiba-tiba ia mendapat akal, sambil berkelit ia terus menyusup maju, secepat kilat ia pegang pergelangan tangan Ting Cin yang bernapsu menyerangnya itu, berbareng In-hong terus angkat tubuh Ting Cin yang tak dapat berkutik itu.
Menyusul terdengarlah suara menderingnya senjata yang saling beradu, kiranya belasan murid Su Yong-wi itu tidak sempat menarik kembali serangan mereka, senjata mereka tetap menghujani sasarannya, karena khawatir mengenai Ting Cin, lekas-lekas Su Yong-wi dan keempat jago muda Bu-tong¬pay terpaksa menangkiskan serangan teman-teman sendiri itu sehingga Ci In-hong dan Kok Ham-hi tidak perlu turun tangan malah.
“Lepaskan muridku!” bentak Su Yong-wi. “Permintaan Su-loenghiong sudah tentu akan kuturuti,” sahut In-hong.
“Tetapi tentang asal-usul muridmu ini harus diterangkan dulu apakah ada hubungannya dengan Loh-samya ini?” Tergerak pula hati Su Yong-wi, ia merasa heran dan sangsi pula, sebab masuknya Ting Cin kedalam perguruannya memang benar adalah melalui perantaraan Loh Hiang-ting.
Tapi harga diri Su Yong-wi tidak dapat menyerah karena digertak, dengan gusar ia menjawab, “Soal muridku peduli apa dengan kau! Lekas lepaskan dia!”
“Tindakan kami ini hanya terpaksa,” kata In-hong dengan tertawa. “Jika Su-loenghiong tidak mau menerangkan asal usul muridmu ini terpaksa kami membawanya pergi.”
“Menangkap sute kami yang baru, kalian terhitung orang gagah macam apa pula?” ejek Thio Tik.
“Kalian sendiri main kerubut, terhitung orang gagah macam apa?” jawab Kok Ham Hi dengan tajam.
Wajah Su Yong-wi menjadi merah padam, bentaknya: “Baik, kalian mundur semua, biar aku sendiri menghadapi dua ksatria ini. Asalkan salah seorang kalian sanggup mengalahkan golokku ini, segera aku akan membuka pintu lebar-lebar, kami guru dan murid pasti takkan merintangi kepergian kalian.”
Nyata, dibalik ucapannya yang “Pasti takkan merintangi” itu telah ditambahkan pula “kami guru dan murid”, jadi tidak termasuk tetamunya andaikan ada diantaranya hendak merintangi kepergian Ci In-hong berdua.